Obat Pembesar Penis obat pembesar penis
musimqq-920x120
Pembesar  Penis Vimax
vimax-asli-canada
ezgif-com-add-text
Poker Online Terbesar di Indonesia Agen Poker Online Terbaik resizedimage-php-jayabet resizedimage-php online online online
Home » Cerita Dewasa ABG » Cerita Dewasa Kesetiaan dan Kenikmatan

Cerita Dewasa Kesetiaan dan Kenikmatan

resizedimage-php-elang resizedimage-php-obat

Seksigo kali ini menghadirkan cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, cewek igo, seks igo berjudul “Cerita Dewasa Kesetiaan dan Kenikmatan” hot terbaru 2016

cerita sex abg

Cerita Dewasa Kesetiaan dan Kenikmatan

Cerita Sex Terbaru | Kejadian ini berlangsung sekitar bulan September 2000 yg lalu. Tanggal berapa tepatnya aku sudah lupa. Yg aku ingat, saat itu hubungan Briana dengan Willy sudah membaik, bahkan aku mendengar mereka telah bertunangan dan berencana untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini. Ketika itu mereka tinggal dalam sebuah rumah kost yg sama di daerah Selatan – Jakarta, meskipun berbeda kamar, karena saat itu Willy sedang mendapat training di Jakarta selama 6 bulan.

Sebagai bekas teman dan atasan Briana, aku memang pernah dikenalkan dengan Willy. Willy ternyata begitu cemburuan. Memang harus aku akui kalau Briana memang cantik, bahkan terlalu cantik untuk ukuran Willy itu. Padahal kalau menurutku sih, adalah hal yg biasa kalau serorang lelaki yg penampilan fisiknya biasa saja, ternyata memiliki seorang pacar yg cantik. Aku mengatakan Briana cantik, bukan merupakan penilaianku yg subyektif.

Cerita Dewasa | Banyak teman-temanku lain yg juga berpendapat begitu. Bahkan beberapa diantaranya berpendapat sama, bahwa Briana memiliki sex appeal yg luar biasa tinggi. Bagi kaum lelaki, jika memandang mata Briana, boleh jadi langsung akan berfantasi macam-macam. Percaya atau tdk, mata Briana begitu sayu seolah-olah ‘pasrah’ ditambah lagi dengan bibirnya yg seksi dan suka digigit-gigit, kalau Briana sedang gemes. Sungguh suatu ciptaan Tuhan yg sangat eksotis dan sensual.

Ketika aku sempat mengobrol dengan Willy minggu sebelumnya, secara tdk sengaja kami menemukan suatu peluang bisnis yg mungkin bisa dikerjakan bersama antara kantorku dengan kantornya. Pikiran dagangku segera jalan dan aku menjanjikan untuk menitipkan sebuah proposal kepada Willy untuk dibahas oleh tim kantornya di Malang.

Siang itu, sehabis meeting dengan salah satu klienku di sebuah kantor di daerah Kuningan, aku berencana untuk mampir ke rumah kost Willy ? yg juga rumah kost Briana – untuk menitipkan proposal yg aku janjikan. Aku mengendarai mobil menuju tempat kost Willy. Sesampainya di sana, aku melihat garasi tempat mobil Willy biasa diparkir dalam keadaan kosong yg menandakan Willy sedang keluar. Namun aku tdk mengurungkan niatku untuk bertemu dengan Willy.

Setelah aku memarkir mobil di depan halaman rumah kost itu, aku masuk menuju ruang tamu yg pada saat itu pintunya dalam keadaan terbuka, dan langsung menuju ke kamar Willy. Di dalam rumah itu ada 4 kamar dan kamar Willy yg paling pojok, berhadapan dengan kamar Briana. Masing-masing kamar kelihatan tertutup pertanda tdk ada kehidupan di dalam rumah itu. Aku ingin menulis pesan di pintu kamar Willy karena memang aku sangat perlu dengannya.

Sementara aku sedang menuliskan pesan, samar-samar terdengar suara televisi dari dalam kamar Briana, di depan kamar Willy, pertanda ada seseorang di dalam kamarnya. Aku memastikan kalau yg di dalam kamar itu adalah Briana, bukannya orang lain. Aku mengetuk pintu perlahan sambil memanggil nama Briana. Tdk beberapa lama kemudian pintu dibuka kira-kira sekepalan tangan dan aku melihat wajah Briana tampak dari celah pintu yg terbuka.

“Eh, Mas.. cari Mas Willy yaa.. Tadi pagi sih ditungguin, tapi Mas Willy buru-buru berangkat Mas”, jawabnya sebelum aku bertanya.

Entah mengapa, ketika menatap mata Briana yg sayu itu, pikiranku jadi teringat masa-masa indah yg pernah kami alami dulu.

Aku sambil tersenyum menatapnya seraya bertanya,

“Kamu nggak ke kantor hari ini?”
“Lagi kurang enak badan nih, Mas, tadi Ana bangunnya kesiangan, jadi males banget ke kantor”, jawabnya singkat, sambil menggigit bibir bawahnya.

Ada rasa menyesal kenapa dia harus membolos ke kantor hari ini.

“Terus, Willy biasanya jam berapa pulangnya, Ana?”, tanyaku sekedar berbasa-basi.
“Mestinya sih jam 5 nanti, tapi mungkin bisa lebih lama, soalnya Mas Willy hari ini ada tugas kelompok bersama teman-teman trainingnya”, jawabnya agak kesal.

Saat itu kira-kira jam 1 siang berarti Willy pulang kira-kira 4 atau 5 jam lagi, pikiranku mulai nakal.

Aku mencoba mencari bahan pembicaraan yg kira-kira bisa memperpanjang obrolan kami agar aku bisa lebih dekat dengan Briana. Agak lama aku terdiam. Aku memandang matanya, memandang bibirnya yg basah. Bibirnya yg dipoles warna merah menambah sensual bentuknya yg tipis dan memang sangat indah itu.

Semakin lama aku melihatnya semakin aku berfantasi macam-macam. Sungguh, jantungku deg-degan saat itu. Mata Briana tdk berkedip sekejap pun membalas tatapan mataku. Sebuah desiran hangat mengalir keras di dadaku, dan aku sungguh yakin Briana pun masih memiliki getar rasa yg sama denganku.

Setelah agak lama kami terdiam, “Teman-teman kamarmu yg lain lagi pada kemana semua, Ana?”, dengan mata menatap sekeliling aku bertanya sekenaku, menanyakan keberadaan anak-anak kost yg lain.

“Mas ini mau nyari Mas Willy atau..”, kata-katanya terputus tapi aku bisa menerjemahkan kelanjutan kalimatnya dari senyuman di bibirnya.

Akhirnya aku memutuskan untuk to the point aja.

“Aku juga pengin ketemu denganmu, Ana!”, jawabku berpura-pura.

Dia tertawa pelan,

“Mas, kenapa, sih?”, ia memandangku lembut.
“Boleh aku masuk, Ana? Ada sesuatu yg ingin kubicarakan denganmu,”, jawabku lagi.
“Sebentar, ya.. Mas, kamar Ana lagi berantakan nih!”

Briana lalu menutup pintu di depanku. Tdk beberapa lama berselang pintu terbuka kembali, lalu dia mempersilakan aku masuk ke dalam kamarnya. Aku duduk di atas kasur yg digelar di atas lantai. Briana masih sibuk membereskan pakaian-pakaian yg bertebaran di atas sandaran kursi sofa. Aku menatap tubuh Briana yg membelakangiku.

Saat itu dia mengenakan kaos ketat warna kuning yg memperlihatkan pangkal lengannya yg mulus. Aku memandang pinggulnya yg ditutup oleh celana pendek. Tungkainya panjang serta pahanya bulat dan mulus. K0ntolku menjadi tegang memandang semua keindahannya, ditambah dengan khayalanku dulu, ketika aku memiliki kesempatan membelai-belai lembut kedua pangkal pahanya itu. Cerita Sex

Kemudian Briana duduk di sampingku. Lututnya ditekuk sehingga celananya agak naik ke atas membuat pahanya semakin terpampang lebar. Kali ini tanpa malu-malu aku menatapnya dengan sepengetahuan Briana. Dia mencoba menarik turun agak ke bawah ujung celananya untuk menutupi pahanya yg sedang aku nikmati.

“Mas, mau bicara apa, sih?”, katanya tiba-tiba.

Saat itu otakku berpikir cepat, aku takut kalau sebenarnya aku tdk punya bahan pembicaraan yg berarti dengannya. Soalnya dalam pikiranku saat itu cuma ada khayalan-khayalan untuk bercinta dengannya.

“Mmm.. Na.. aku beberapa hari ini sering bermimpi,”, kataku berbohong.

Entah dari mana aku mendapatkan kalimat itu, aku sendiri tdk tahu tetapi aku merasa agak tenang dengan pernyataan itu.

“Mimpi tentang apa, Mas?”, kelihatannya dia begitu serius menangapiku dilihat dari caranya memandangku.
“Tentang kamu, Na”, jawabku pelan.

Bukannya terkejut, malah sebaliknya dia tertawa mendengar bualanku. Sampai-sampai Briana menutup mulutnya agar suara tawanya tdk terdengar terlalu keras.

“Emangnya Mas, mimpi apa sama aku?”, tanyanya penasaran.
“Ya.. biasalah, kamu juga pasti tahu”, jawabku sambil tertunduk.

Tiba-tiba dia memegang tanganku. Aku benar-benar terkejut lalu menoleh ke arahnya

“Mas ini ada-ada saja, Mas ‘kan sekarang sudah punya yg di rumah, lagian aku juga ‘kan sudah punya pacar, masa masih mau mimpi-mimpiin orang lain?”
“Makanya aku juga bingung, Ana. Lagian kalaupun bisa, aku sebenarnya nggak ingin bermimpi tentang kamu, Ana”, jawabku pura-pura memelas.

Kami sama-sama terdiam. Aku meremas jemari tangannya lalu perlahan aku mengangkat menuju bibirku. Dia memperhatikanku pada saat aku melabuhkan ciuman mesra ke punggung tangannya. Aku menggeser posisi dudukku agar lebih dekat dengan tubuhnya. Aku memandangi wajahnya. Mata kami berpandangan. Wajahku perlahan mendekati wajahnya, mencari bibirnya, semakin dekat dan tiba-tiba wajahnya berpaling sehingga mulutku mendarat di pipinya yg mulus. Kedua tanganku kini bergerak aktif memeluk tubuhnya. Cerita Sex Kenikmatan Dalam Kesetiaan

Tangan kananku menggapai dagunya lalu mengarahkan wajahnya berhadapan dengan wajahku. Aku meraup mulutnya seketika dengan mulutku. Briana menggeliat pelan sambil menyebutkan namaku.

“Mas.., cukup mas!”, tangannya mencoba mendorong dadaku untuk menghentikan kegiatanku.

Aku menghentikan aksiku, lalu pura-pura meminta maaf kepadanya.

“Maafkan aku, Ana.. aku nggak sanggup lagi jika setiap malam memimpikan dirimu”, aku pura-pura menunduk lagi seolah-olah menyesali perbuatanku.
“Aku mengerti Mas, aku juga nggak bisa menyalahkan Mas karena mimpi-mimpimu itu. Bagaimanapun juga, kita pernah merasa deket Mas”, sepertinya Briana memafkan dan memaklumi perbuatanku barusan.

Aku menatap wajahnya lagi. Ada semacam kesedihan di wajahnya hanya saja aku tak tahu apa penyebabnya. Pipinya masih kelihatan memerah bekas cumbuanku tadi.

“Aku juga ingin membantu Mas agar tdk terlalu memikirkanku lagi, tapi..” kalimatnya terputus.

Dalam hati aku tersenyum dengan kalimat

“ingin membantu..” yg diucapkannya.

“Ana, aku cuma ingin pergi berdua denganmu, sekali saja.., sebelum kamu benar-benar menjadi milik Willy. Agar aku bisa melupakanmu”, kataku memohon.
“Kita kan sama-sama sudah ada yg punya, Mas.., nanti kalau ketahuan gimana?”

Nah, kalau sudah sampai disini aku merasa mendapat angin. Kesimpulannya dia masih mau pergi denganku, asal jangan sampai ketahuan sama Willy.

“Seandainya ketahuan.. aku akan bertanggung jawab, Ana”, setelah itu aku memeluknya lagi.

Dan kali ini dia benar-benar pasrah dalam pelukanku. Malah tangannya ikut membalas memeluk tubuhku. Telapak tanganku perlahan mengelus punggungnya dengan mesra, sementara bibirku tdk tinggal diam menciumi pipi lalu turun ke lehernya yg jenjang. Briana mendesah.

Aku menciumi kulitnya dengan penuh nafsu. Mulutku meraup bibirnya. Briana diam saja. Aku melumat bibirnya, lalu aku menjulurkan lidahku perlahan seiring mulutnya yg seperti mempersilakan lidahku untuk menjelajah rongga mulutnya. Nafasnya mulai tdk teratur ketika lidahku memilin lidahnya.

Kesempatan ini aku gunakan untuk membelai payudaranya. Perlahan telapak tanganku aku tarik dari punggungnya melalui ketiaknya. Tanpa berhenti membelai, telapak tanganku kini sudah berada pada sisi payudaranya. Aku benar-benar hampir tdk bisa menguasai birahiku saat itu. Apalagi aku sudah sering membaygkan kesempatan seperti saat ini terulang lagi bersamanya.

Kini telapak tanganku sudah berada di atas gundukan daging di atas dadanya. Tdk terlalu besar dan tdk terlalu kecil, justru yg seperti ini yg paling indah menurutku. Pada saat tanganku mulai meremas payudaranya yg sebelah kanan, tangan Briana mencoba menahan aksiku. Payudaranya masih kencang dan padat membuatku semakin bernafsu untuk meremas-remasnya.

“Mas, jangan sekarang Mas.. Ana takut..”, katanya berulang kali.

Aku juga merasa tindakanku saat itu betul-betul nekat, apalagi pintu kamar masih terbuka setengah. Jangan-jangan ada orang lain yg melihat perbuatan kami. Wah, bisa gawat jadinya.

Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menenangkan suasana. Aku bukanlah tipe laki-laki yg suka terburu-buru dalam berbagai hal, khususnya dalam masalah percintaan.

Aku kini duduk di kursi sofa menghadap Briana, sedangkan Briana masih di atas kasur sambil memperbaiki rambut dan kaosnya kuningnya yg agak kusut.

“Mas, mau ngajak Ana ke mana, sih”, Briana menatap wajahku.
“Pokoknya tempat di mana tdk ada orang yg bisa mengganggu ketenangan kita, Ana”, jawabku sambil memandang permukaan dadanya yg baru saja aku remas-reMas.

Briana duduk sambil bersandar dengan kedua tangan di belakang untuk menahan tubuhnya. Payudaranya jadi kelihatan menonjol. Aku memandang nakal ke arah payudaranya sambil tersenyum. Kakinya diluruskan hingga menyentuh telapak kakiku.

“Tapi kalau ketahuan.. Mas yg tanggung jawab, yaa..”, katanya mencoba menuntut penjelasanku lagi. Aku mengangguk.
“Terus kapan jalan-jalannya, Mas?”,
“Gimana kalo besok sore jam 4, besok ‘kan Jum’at, bisa pulang lebih awal ‘kan?”, tanyaku.
“Ketemu di mana?”, tanyanya penasaran.
“Kamu telepon aku, kasih tahu kamu lagi dimana saat itu, lalu aku akan menjemputmu di sana, gimana?”, tanyaku lagi.

Dia tersenyum menatapku,

“Wah, Mas ternyata pintar banget untuk urusan begituan.”, Aku tertawa.
“Tapi aku nggak mau kalau Mas nakalin aku kayak dulu lagi!!,”, tegasnya.

Aku terkejut namun pura-pura mengiyakan, soalnya tadi aku merasa besok aku sudah bisa menikmati kehangatan tubuh Briana seperti dulu lagi. Makanya besok sengaja aku memilih waktu sore hari karena aku ingin mengajaknya menginap, kalau dia mau. Namun aku diam saja, yg penting dia sudah mau aku ajak pergi, tinggal penyelesaiannya saja. Lagian ngapain dia mesti minta tanggung jawab, seandainya aku tdk berbuat apa-apa dengannya, pikirku lagi. Ah, lihat besok sajalah.

Pukul 3 siang, akhirnya aku harus kembali ke kantorku, di samping memang Briana juga meminta aku segera pulang karena dia juga takut kalau tiba-tiba Willy memergoki kami sedang berdua di kamar. Namun sebelum pulang aku masih sempat menikmati bibir Briana sekali lagi waktu berdiri di samping pintu.

Aku malah sempat menekan tubuh Briana hingga punggungnya bersandar di dinding. Kesempatan ini aku gunakan untuk menekan k0ntolku yg sedari tadi butuh penyaluran ke selangkangannya. Tetapi hal itu tdk berlangsung lama karena situasinya memang tdk memungkinkan.

Di kantor.., di rumah.. aku selalu gelisah. K0ntolku senantiasa menegang membaygkan apa yg telah dan akan aku lakukan terhadap Briana nanti.

Keesokan harinya, disaat aku menunggu tibanya saat bertemu, aku merasa waktu berjalan begitu lambat. Hingga pukul 5 sore, seperti waktu yg telah kami sepakati kemarin, aku sedang menanti-nanti telepon dari Briana. Aku mulai gelisah ketika 15 menit telah lewat, namun Briana belum juga meneleponku.

Aku mulai menghitung detik-detik yg berlalu hingga hampir setengah jam, dan tiba-tiba handphoneku berbunyi. Seketika aku mengangkat telepon itu. Dari seberang sana aku mendengar suara Briana yg sangat aku nanti-nantikan. Briana meminta maaf sebelumnya, karena kesibukannya hari itu tdk memungkinkan baginya untuk pulang dari kantor lebih awal. Cerita Sex Kenikmatan Dalam Kesetiaan

Banyak pekerjaannya yg menumpuk, karena kemarin ia tdk masuk ke kantor. Saat itu ia memintaku untuk menjemputnya di sebuah wartel dekat pertigaan di seberang kantornya. Aku langsung menyambar kunci mobil, lalu keluar dari kantorku dan bergegas menuju wartel tempat di mana Briana sedang menungguku.

Aku memarkir mobil di depan wartel itu, dan tak lama berselang aku melihat Briana keluar dari wartel, dengan memakai kaos ketat warna orange bertuliskan Mickey Mouse (tokoh favoritnya) di bagian dadanya, dipadukan celana jeans warna abu-abu. Blazer kerjanya telah ia lepas, dan ditenteng bersama tas kerjanya. Aku masih ingat, ia memang selalu tampil ke kantor dengan pakaian casual setiap hari Jum’at. Briana langsung naik ke atas mobilku, setelah memastikan tdk ada orang lain yg mengenalinya di tempat itu.

Aku tersenyum memandangnya. Briana kelihatan begitu cantik hari ini. Bibirnya tdk dipoles dengan lipstik merah seperti biasanya. Ia hanya menyapukan lipsgloss tipis, yg membuat jantungku semakin deg-degan. Aku segera menancap gas menuju tol ke arah Ancol.

Selama di perjalanan, aku dan Briana bercerita tentang berbagai hal, termasuk Willy dan kehidupan keluargaku. Sesampainya di Ancol aku mengajak Briana untuk makan di sebuah rumah makan di tepi laut yg nuansa romantisnya sangat terasa. Tanpa canggung lagi aku memeluk pinggang Briana, pada saat kami memasuki rumah makan tersebut.

Briana juga melingkarkan tangannya di pinggangku. Setelah memesan makanan dan minuman, aku memeluknya lagi. Tanganku bergerilya di sekitar pinggangnya yg terbuka. Suasana lesehan di rumah makan itu, yg ruangannya disekat-sekat menjadi beberapa tempat dengan pembatas dinding bilik yg cukup tinggi, membuat aku bisa bertindak leluasa kepada Briana.

“Tadi malam mimpi lagi, nggak?”, tanyanya memecah keheningan.
“Nggak, tapi aku sempat gelisah nggak bisa tidur karena terus membaygkanmu”, jawabku tanpa malu-malu.

Briana tertawa, sambil tangannya mencubit pinggangku. Hari sudah menjelang malam ketika kami meninggalkan tempat itu. Setelah berputar-putar di sekitar lokasi pantai, akhirnya aku memutuskan untuk menyewa sebuah kamar pada sebuah cottages di kawasan Ancol. Semula Briana menolak, karena dia takut kalau kami tdk bisa menahan diri. Aku akhirnya meyakinkan Briana bahwa sebenarnya aku cuma ingin berdua saja dengannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja.

Akhirnya Briana mengalah. Ketika kami telah berada di dalam kamar cottages itu, Briana tampak jadi pendiam. Dia duduk di atas kursi memandang ke arah laut, sementara aku rebahan di atas tempat tidur. Aku mencoba mencairkan suasana, dengan kembali bertanya mengenai kesibukan pekerjaannya hari itu. Selama aku bertanya kepadanya, ia cuma menjawab singkat dengan kata-kata iya dan tdk. Hanya itu yg keluar dari mulutnya.

“Mas, pasti kamu menganggap aku cewek murahan, yaa.. kan?”, akhirnya Briana mau mulai membuka pembicaraan juga.

Ternyata, dengan mengingat statusnya saat ini sebagai tunangan Willy, Briana masih belum bisa menerima perlakuanku yg membawanya ke dalam cottages ini. Namun aku tdk menyesal karena dalam pikiranku sebenarnya dia sudah tahu apa yg akan terjadi, sejak kejadian kemarin siang di kamarnya. Tinggal bagaimana caranya aku bisa mengajaknya bercinta tanpa ada pemaksaan sedikitpun.

“Ana, aku sudah bilang sejak kemarin kalau aku ingin berduaan saja bersamamu, sebelum Willy benar-enar menikahi kamu. Aku hanya ingin memelukmu tanpa ada rasa takut, itu saja. Dan aku rasa di sinilah tempatnya”, jawabku mencoba memberikan pengertian kepadanya.
“Tetapi, apa Mas sanggup untuk tdk melakukan yg lebih dari itu?”, Briana menatapku dengan sorotan mata tajam.
“Kalau kamu gimana?”, aku malah balik bertanya.
“Aku tanyam, kok malah balik nanya ke aku sih?”, ia bertanya dengan nada agak ketus.
“Aku sanggup, Ana”, tegasku.

Akhirnya dia tersenyum juga. Briana lalu berjalan ke arahku menuju tempat tidur lalu duduk di sampingku. Aku lalu merangkul tubuhnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.

“Janji ya, Mas..!”, ujarnya lagi. Aku mengangguk.

Kini aku memeluk tubuh indah Briana dengan posisi menyamping, sedang Briana rebah menghadap ke atas langit-langit kamar. Aku mencium pipinya, sambil jemariku membelai-belai bagian belakang telinganya. Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Aku memandangi wajahnya yg manis, hidungnya yg mancung, lalu bibirnya. Cerita Ngentot

Aku tdk tahan untuk berlama-lama menunggu, sehingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya. Aku melumat bibir tipis itu dengan mesra, lalu aku mulai menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Cukup lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tersengal-sengal tdk beraturan.

Sesaat kemudian, ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi.. dan lagi.. Tangan kiriku yg bebas untuk melakukan sesuatu terhadap Briana, kini mulai aku aktifkan. Aku membelai, meremasi pangkal lengannya yg terbuka. Aku membuka telapak tanganku, sehingga jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil tetap membelai lembut pangkal lengannya.

Bibirku kini turun menyapu kulit putih di lehernya seiring telapak tanganku meraup bukit indah payudaranya. Briana menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya, disaat lidahku menjulur, menjilat, membasahi, menikmati batang lehernya yg jenjang.

“Mas, jangan..!”, Briana mencoba menarik telapak tanganku yg kini sedang mereMas, menggelitik payudaranya.

Aku tdk peduli lagi. Lagi pula dia juga tampaknya tdk sungguh-sungguh untuk melarangku. Hanya mulutnya saja yg seolah melarang, sementara tangannya cuma sebatas memegang pergelangan tanganku, sambil tetap membiarkan telapak tanganku terus mengelus dan meremas buah dadanya yg mulai mengeras membusung.

Suasana angin pantai yg dingin di luar sana, sangat kontras dengan keadaan di dalam kamar tempat kami bergumul. Aku dan Briana mulai merasa kegerahan. Aku akhirnya membuka kaosku sehingga bertelanjang dada.

“Ana, Mas sangat ingin melihat payudaramu, ‘yg..”, ujarku sambil mengusap bagian puncak puting payudaranya yg menonjol.

Briana kembali menatapku tajam. Mestinya aku tdk perlu memohon kepadanya karena saat itupun aku sudah membelai dan meremas-remas payudaranya. Tetapi entah mengapa aku lebih suka jika Briana yg membuka kaosnya sendiri untukku.

“Tapi janji Mas yaa.., cuma yg ini aja”, katanya lagi.

Aku cuma mengangguk, padahal aku tdk tahu apa yg mesti aku janjikan lagi.

Briana akhirnya membuka kaos ketat warna orange-nya di depan mataku. Aku terkagum-kagum ketika menatap dua gundukan daging di dadanya, yg masih tertutup oleh sebuah berwarna bra berwarna hitam. Payudara itu begitu membusung, menantang. Bukit-bukit di dada Briana naik turun seiring dengan desah nafasnya yg memburu. Sambil berbaring Briana membuka pengait bra di punggungnya. Punggungnya melengkung indah. Cerita Sex Kenikmatan Dalam Kesetiaan

Aku menahan tangan Briana ketika dia mencoba untuk menurunkan tali bra-nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan bra-nya yg longgar karena tanpa pengait seperti itu, membuat payudaranya semakin menantang. Payudaranya sangat putih kontras dengan warna bra-nya, sangat terawat dan sangat kencang, seperti yg selama ini selalu aku bayg-baygkan.

“Payudaramu masih tetap bagus sekali. Ana, kamu pintar merawat, yaa..”, aku mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya.
“Pantes si Willy jadi tergila-gila sama dia,”, pikirku.

Lalu, perlahan-lahan aku menarik turun cup bra-nya. Mata Briana terpejam. Perhatianku terfokus ke puting susunya yg berwarna merah kecoklatan. Lingkarannya tdk begitu besar, namun ujung-ujung puncaknya begitu runcing dan kaku. Aku mengusap putingnya lalu aku memilin dengan jemariku. Briana mendesah. Mulutku turun ingin mencicipi payudaranya.

“Egkhh..”, rintih Briana ketika mulutku melumat puting susunya.

Aku mempermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali aku menggigit lembut putingnya, lalu aku hisap kuat-kuat sehingga membuat Briana menarik, menjambak rambutku. Puas menikmati buah dada yg sebelah kiri, aku mencium buah dada Briana yg satunya, yg belum sempat aku nikmati.

Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan silih berganti keluar dari mulut Briana. Sambil menciumi payudara Briana, tanganku turun membelai perutnya yg datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perut Briana.

Aku membelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba bagian kewanitaannya yg masih tertutup oleh celana jeans ketat yg dikenakan Briana. Secara tiba-tiba, aku menghentikan kegiatanku, lalu berdiri di samping ranjang. Briana tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka pantalon warna hitam yg aku kenakan.

Sengaja aku membiarkan lampu kamar cottage itu menyala terang, agar aku bisa melihat secara jelas detil dari setiap inci tubuh Briana yg selama ini sering aku jadikan fantasi seksualku. Aku masih berdiri sambil memandang tubuh Briana yg tergolek di ranjang, menantang. Kulitnya yg putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar.

Celana jeans ketat yg dipakainya telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yg sempurna.

Puas memandangi tubuh Briana, lalu aku membaringkan tubuhku di sampingnya. Aku merapikan untaian rambut yg menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Briana. Aku membelai lagi payudaranya. Aku mencium bibirnya sambil aku masukkan air liurku ke dalam mulutnya. Briana menelannya. Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans-nya yg memang agak longgar.

Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan Briana yg masih tertutup celana dalamnya. Briana menahan tanganku, ketika jari tengah tanganku membelai permukaan celana dalamnya tepat diatas kewanitaannya. Ia telah basah.. Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yg paling pribadi pada tubuh Briana. Pinggul Briana perlahan bergerak ke kiri.., ke kanan.. dan sesekali bergoyg untuk menetralisir ketegangan yg dialaminya.

“Mas, nanti kita terlalu jauh, Mas..”, ujarnya perlahan sambil menatap sayu ke arahku.

Matanya yg sayu ditambah dengan rangsangan yg tengah dialaminya, menambah redup bola matanya. Sungguh, aku semakin bernafsu melihatnya. Aku menggeleng lalu tersenyum, bahkan aku malah menyuruh Briana untuk membuka celana jeans yg dipakainya.

Tangan kanan Briana berhenti pada permukaan kancing celananya. Ia kelihatan ragu-ragu. Aku lalu berbisik mesra ke telinganya, kalau aku ingin memeluknya dalam keadaan telanjang seperti yg selama ini senantiasa aku mimpikan. Briana lalu membuka kancing dan menurunkan reitsliting celana jeans-nya. Celana dalam hitam yg dikenakannya begitu mini sehingga rambut-rambut pubis yg tumbuh di sekitar kewanitaannya hampir sebagian keluar dari pinggir celana dalamnya.

Aku membantu menarik turun celana jeans Briana. Pinggulnya agak dinaikkan ketika aku agak kesusahan menarik celana jeans itu. Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan celana dalam. Tubuhnya tampak semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus aku akui tubuhnya begitu menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal.

Briana menarik selimut untuk menutupi permukaan tubuhnya. Aku beringsut masuk ke dalam selimut lalu memeluk erat tubuh Briana. Kami berpelukan. Aku menarik tangan kirinya untuk menyentuh kepala k0ntolku. Dia tampak terkejut ketika mendapatkan k0ntolku yg tanpa penutup lagi. Memang, sebelum aku masuk ke dalam selimut, aku sempat melepaskan celana dalamku tanpa sepengetahuan Briana. Aku tersenyum nakal.

“Occhh..”, Briana semakin kaget ketika tangannya menyentuh k0ntolku yg telah tegak menegang.
“Kenapa, Ana?”, aku bertanya pura-pura tdk mengerti.

Padahal aku tahu dia pasti terkejut karena merasakan betapa telah kuat dan kokohnya k0ntolku saat ini. Briana tersenyum malu. Sentuhan k0ntolku di tangannya membuat Briana merasa malu, tetapi hati kecilnya mau, ditambah sedikit rasa takut, mungkin.. Kini, Briana mulai berani membelai dan menggenggam k0ntolku. Belaiannya begitu mantap menandakan Briana begitu piawai dalam urusan yg satu ini.

“Tangan kamu semakin pintar yaa.., Ana”, ujarku sambil memandang tangannya yg mulai mengocok-ngocok lembut sekujur k0ntolku.
“Ya, mesti dong..,’kan Mas yg dulu ngajarin Ana!”, jawabnya sambil cekikikan.

Mendapat jawaban pertanyaan seperti itu, entah mengenapa hasrat birahiku tiba-tiba menjadi semakin liar. Namun aku tetap berusaha bertahan untuk sementara waktu, sebelum aku merasakan ia benar-benar siap untuk berpaducinta denganku. Sambil meresapi kenikmatan usapan-usapan yg aku rasakan di sepanjang kulit batang k0ntolku, jari-jemariku yg nakal mulai masuk dari samping celah celana dalam Briana. Telapak tanganku langsung menyentuh bibir kewanitaannya yg sudah merekah basah. Jari telunjukku membelai-belai sejumput daging kecil di dalam lepitan celahnya, sehingga Brianapun semakin merasakan nikmat semata. Cerita Sex Kenikmatan Dalam Kesetiaan

“Kamu mau mencium k0ntolku nggak, Ana?”, tanyaku tanpa malu-malu lagi.

Briana tertawa sambil mencubit batang k0ntolku. Aku meringis.

“Kalau punya Mas yg sekarang, kayaknya Ana nggak bisa?”, ujarnya.
“Kenapa memangnya, apa bedanya punya Mas yg dulu dengan yg sekarang?”, tanyaku penasaran.
“Yg sekarang kayaknya nggak muat di mulutku, soalnya rasanya tambah besar dari yg dulu..”, selesai berkata demikian Briana langsung tertawa kecil.
“Kalau yg dibawah, gimana?”, tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam lubang kewanitaannya.

Briana merintih sambil menahan tanganku. Tetapi jariku sudah terlanjur tenggelam ke dalam vaginanya. Aku merasakan liang kewanitaannya berdenyut menjepit jariku. Oooch.., pasti nikmat sekali kalau saja k0ntolku yg diurut, pikirku. Tiba-tiba, matanya memandang tajam ke arahku, dengan muka yg agak berkerut masam.

“Kenapa, Ana, ada apa ‘yg?”, aku bertanya sambil menarik tanganku dari liang kewanitaannya.

Aku tahu dia marah, tetapi apa sebabnya..?

“Anak ini, kok aneh banget, jual mahal lagi”, pikirku.
“..atau dia ingat Willy, sehingga tiba-tiba ia merasa bersalah?”
“..terus ngapain dia mau aku cumbu sejak kemarin?”, aku masih penasaran dengan sikapnya yg tiba-tiba berubah.

“Mas ‘kan sudah janji untuk tdk melakukannya, ‘kan?”, tiba-tiba Briana berbicara. Aku terdiam.
“Aku tadinya nggak mau kita masuk ke kamar ini, karena aku takut kita nggak bisa menahan keinginan untuk melakukannya lagi, Mas”, tambahnya memberikan pengarahan kepadaku.
“Bagaimanapun juga khusus untuk yg satu ini, Ana tdk dapat memberikan buat Mas lagi. Bukan hanya Mas yg nggak tahan, aku juga sebenarnya sudah nggak tahan.. Aku nggak munafik, Mas. Tapi.. kumohon, please.. Mas mau mengerti posisiku sekarang”, sambil berkata demikian Briana mencium keningku.

Aku tdk tahu harus berbuat apa saat itu. Dalam posisi yg sudah sama-sama telanjang, kecuali Briana yg masih mengenakan celana dalamnya, berdua di dalam sebuah kamar di tepi laut yg romantis, dapat dibaygkan apa sebenarnya yg bakal terjadi. Tetapi kali ini tdklah demikian. Bayganku tentang kenikmatan saat bercinta dengan Briana sirna sudah, atau setdknya tdk dapat aku rasakan saat ini. Tapi sampai kapan? Aku jadi berpikiran untuk memaksanya saja melakukan persetubuhan, tetapi hal itu bertentangan dengan hati nuraniku. Akhirnya aku cuma bisa pasrah dan diam.

K0ntolku yg tadi aku rasakan telah tegang menantang, tiba-tiba menjadi lemas dalam genggaman tangan Briana. Briana meminta maaf kepadaku, menyadari kalau aku kecewa dengan pernyataannya. Aku merasa sudah tdk mungkin bisa untuk melanjutkan permainan cinta lagi. Aku akhirnya meminta ijin kepada Briana untuk mandi. Sungguh,.. aku merasa kecewa sekali.

Di dalam kamar mandi, aku lama terdiam. Aku memandang tubuhku di depan cermin. Kemudian aku guyur tubuhku dengan air yg mengalir deras dari shower di atas kepalaku. Aku ingin mendinginkan suhu tubuhku. Tiba-tiba, aku merasakan ada orang lain yg memelukku dari arah belakang. Aku terkejut, namun cuma sesaat setelah menyadari, ternyata Brianalah yg ada di belakangku. Dia tersenyum memandangku.

“Ecchh.. kamu Ana, jangan deket-deket acchh.., aku masih kesel nih!!”, gumamku berpura-pura sambil mencoba membalas senyumannya.
“Aku ingin mandi bersamamu, Mas,.. boleh?”, pintanya manja.

Aku tdk menjawab permintaannya. Aku langsung menarik tubuhnya untuk berhadapan denganku. Masih di bawah guyuran air yg mengalir dari shower, aku menangkap lengannya, lalu memandang tajam ke arahnya. Berulang kali tanganku mencoba mengusap wajah cantik sensualnya dari guyuran air. Rambutnya yg basah semakin menambah keerotisan wajahnya.

Dengan perlahan tanganku menangkap payudaranya dan mengusap, meremas kuat. Briana meringis. Bukannya melarang, Briana malah mengambil sabun, dan mulai menyabuni tubuhku. Mula-mula dari dada, ke belakang punggung lalu menuju ke bawah, ke batang k0ntolku. Aku merasa aneh atas sikapnya yg berubah-ubah dan suka menggoda.

Diusapnya lembut batang k0ntolku yg sedikit demi sedikit mulai mengeras kembali. Tangannya yg penuh dengan busa sabun, begitu lembut mengocok batang k0ntolku sehingga aku merasa sangat nikmat. Aku tdk tinggal diam, aku membalas menyabuni sekujur tubuh Briana. Aku mengikuti setiap gerakan yg dibuatnya terhadap tubuhku lalu aku mempraktekkan kepadanya.

Aku membalikkan tubuh Briana, sehingga kini ia membelakangiku. Sengaja aku memposisikan tubuhnya berada di depanku, agar aku dapat melihat bagian depan tubuhnya pada permukaan cermin di depannya. Aku melihat ekspressi wajah Briana pada permukaan cermin.

Mata kami beradu pandang, sementara tanganku membelai-belai payudaranya yg mulai mengeras. Aku mempermainkan puncak-puncak putungnya dengan jemariku, sementara tanganku yg satunya mulai meraba bulu-bulu lebat di sekitar liang kewanitaan Briana. Dengan sedikit membungkukkan tubuh, aku meraba permukaan bibir kewanitaan Briana.

Jari tengahku mempermainkan klitorisnya yg mengeras terkena siraman air. Batang k0ntolku yg kini sudah siap tempur, berada dalam genggaman tangan Briana. Sementara aku merasakan, celah kewanitaan Briana juga sudah mulai mengeluarkan cairan cinta yg meleleh melewati jemari tanganku yg kini sedang menyusuri lorong di dalamnya.

Aku membalikkan tubuh Briana kembali, sehingga kini posisinya berhadap-hadapan denganku. Aku memeluk tubuh Briana sehingga batang k0ntolku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggungnya, lalu turun meraba bukit-bukit pantatnya yg membulat indah. Briana membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku. Kedua telapak tanganku meraih pantat Briana. Aku meremas dengan sedikit agak kasar, lalu aku mengangkat agak ke atas, agar batang k0ntolku berada tepat di depan gerbang kewanitaannya. Cerita Sex Kenikmatan Dalam Kesetiaan

Kaki Briana kini tak lagi menyentuh permukaan lantai kamar mandi. Kaki Briana dengan sendirinya mengangkang ketika aku mengangkat pantatnya. Meski agak susah namun aku tetap berusaha agar batang k0ntolku bisa masuk merasakan jepitan liang kewanitaan Briana.

Aku merasakan kepala k0ntolku sudah menyentuh bibir kewanitaan Briana. Aku menekan perlahan, seiring dengan menarik buah pantatnya ke arah tubuhku. Briana menggeliat. Aku merasa kesulitan untuk memasukkan batang batang k0ntolku ke dalam liang kewanitaan Briana, karena k0ntolku yg terus-terusan basah terkena air shower.

Akhirnya, aku mengangkat tubuh Briana ke luar dari kamar mandi. Bagaimanapun juga aku tdk boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi terbukti tadi, Briana hanya diam saja ketika aku berusaha menyusupkan batang k0ntolku ke vaginanya. Pada saat aku membawanya menuju tempat tidur, Briana melingkarkan kedua kakinya di pinggangku.

Aku membaringkan tubuhnya di atas kasur. Lalu, denhan hati-hati tubuhku menyusul menimpa ke atas tubuhnya. Kami tdk mempedulikan butiran-butiran air yg masih menempel di sekujur tubuh kami, sehingga membasahi permukaan kasur.

Aku menciumi lagi lehernya yg jenjang lalu turun melumat puting payudaranya. Telapak tanganku terus membelai dan meremasi setiap lekuk dan tonjolan tubuh Briana. Aku kembali melebarkan kedua pahanya, sambil mengarahkan batang k0ntolku ke bibir kewanitaan Briana. Briana mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yg semakin kuat. Aku menatap mata Briana penuh hasrat nafsu. Bola matanya seakan memohon kepadaku untuk segera memasuki tubuhnya.

“Aku ingin bercinta denganmu, Ana”, bisikku pelan, sementara kepala k0ntolku masih menempel di belahan liang kewanitaan Briana.

Kata-kataku yg terakhir ini ternyata membuat wajah Briana memerah. Mungkin, ketika bersama Willy, dia jarang mendengar permintaan yg terlalu to the point begitu. Aku bisa memastikan, Briana agak malu mendengarnya.

Aku berhenti sesaat untuk menunggu jawaban permohonanku kepadanya, karena bagaimana pun aku tdk mau melakukan persetubuhan tanpa memperoleh persetujuan darinya. Aku bukan tipe laki-laki yg demikian. Bagiku berpaducinta adalah kesepakatan, sepakat berdasarkan kesadaran tanpa adanya unsur pemaksaan. Briana menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. Bukan main rasa senangnya hatiku. Akhirnya..

“..yes!”. Aku berjanji akan memperlakukannya dengan hati-hati sekali, begitu yg ada dalam fikiranku.

Kini aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun batang k0ntolku yg perlahan mulai menyusup melesak ke dalam liang kewanitaan Briana. Mula-mula terasa seret memang, namun aku malah semakin menyukainya. Perlahan namun pasti, kepala k0ntolku membelah liang kewanitaannya yg ternyata begitu kencang menjepit batang k0ntolku.

Dinding dalam kewanitaan Briana ternyata sudah begitu licin, sehingga agak memudahkan k0ntolku untuk menyusup lebih ke dalam lagi. Briana memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku, hingga aku agak kesakitan. Namun aku tak peduli.

“Mas, gede banget, occhh..”, Briana menjerit lirih. Tangannya turun menangkap batang k0ntolku.
“Pelan maas..”, ujarnya berulang kali, padahal aku merasa aku sudah melakukannya dengan begitu pelan dan hati-hati.

Mungkin karena lubang kewanitaannya tdk pernah lagi dimasuki batang kemaluan seperti milikku ini. Soalnya aku tahu pasti ukuran k0ntol Willy, pacar Briana tdklah sebesar yg aku miliki. Makanya Briana agak merasa kesakitan.

Akhirnya batang k0ntolku terbenam juga di dalam kewanitaan Briana. Aku berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yg timbul akibat kontraksi otot-otot dinding kewanitaan Briana. Denyutan itu begitu kuat, sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yg begitu sempurna. Aku melumat bibir Briana sambil perlahan-lahan menarik batang k0ntolku,.. untuk selanjutnya aku benamkan lagi, masuk.., keluar.., masuk.., keluar..

Aku meminta Briana untuk membuka kelopak matanya. Briana menurut. Aku sangat senang melihat matanya yg semakin sayu menikmati batang k0ntolku yg keluar masuk di dalam kewanitaannya.

“Aku suka kewanitaanmu, Ana, kewanitaanmu masih tetap rapet, ‘yg”, ujarku sambil merintih keenakan.

Sungguh, liang kewanitaan Briana masih terasa enak sekali.

“Icchh.. Mas ngomongnya sekarang vulgar banget”, balasnya sambil tersipu malu, lalu ia mencubit pinggangku.
“Tapi enak ‘kan, ‘yg?”, tanyaku, yg dijawab Briana dengan sebuah anggukan kecil.

Aku meminta Briana untuk menggoygkan pinggulnya. Briana langsung mengimbangi gerakanku yg naik turun dengan goygan memutar pada pinggangnya.

“Suka batang k0ntolku, Ana?”, tanyaku lagi. Briana hanya tersenyum.

Batang k0ntolku terasa seperti diremas-reMas. Masih ditambah lagi dengan jepitan vaginanya yg sepertinya punya kekuatan magis untuk menyedot meluluh lantakkan otot-otot k0ntolku.
“Makin pintar saja dia menggoyg”, batinku dalam hati.
“Occhh..”, aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat.

Aku mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya, dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan batang k0ntolku ke dalam vagina Briana.

Aku memperhatikan dengan seksama k0ntolku yg keluar masuk lincah di sana. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Briana semakin melebarkan kedua pahanya, sementara tangannya melingkar erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goygan pinggul Briana yg semakin tdk terkendali.

“Anai.. enak banget, ‘yg, kamu makin pintar, ‘yg..”, ucapku merasa keenakan.
“Kamu juga, Mas.., Ana juga enakk..”, , jawabnya agak malu-malu.

Briana merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan. Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata-kata, “aduh..occhh..”, yg diucapkan terputus-putus. Aku merasakan vagina Briana semakin berdenyut sebagai pertanda Briana akan mencapai puncak pendakiannya.

Aku juga merasakan hal yg sama dengannya. Namun aku mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan, untuk menurunkan daya rangsangan yg aku alami. Aku tdk ingin segera menyudahi permainan ini dengan tergesa-gesa.

Aku mempercepat goyganku ketika aku menyadari Briana hampir mencapai orgasmenya. Aku meremas payudaranya kuat-kuat, seraya mulutku menghisap dan menggigiti puting susu Briana. Aku menghisap dalam-dalam.

“Occhh.. Mas..”, jerit Briana panjang.

Aku membenamkan batang k0ntolku kuat-kuat ke vaginanya hingga mencapai dasar rongga yg terdalam. Briana mendapatkan kenikmatan yg sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhnya mengejang. Kepalaku ditarik kuat-kuat hingga terbenam di antara dua bukit payudaranya. Pada saat tubuhnya menghentak-hentak, ternyata aku merasa tdk sanggup lagi untuk bertahan lebih lama.

“Anaaa.. aakuu.. mau keluaarr.. saayg.. occhh.. hh..”, jeritku.

Aku ingin menarik keluar batang k0ntolku dari dalam vaginanya. Namun Briana masih ingin tetap merasakan orgasmenya, sehingga tubuhku serasa dikunci oleh kakinya yg melingkar di pinggangku. Saat itu juga aku merasa hampir saja memuntahkan cairan hangat dari ujung k0ntolku yg hampir meledak. Aku merasakan tubuhku bagaikan layg-layg putus yg melayg terbang, tdk berbobot.

Aku tdk sempat menarik keluar batang k0ntolku lagi, karena secara spontan Briana juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya, berulang kali. Mulutku yg berada di belahan dada Briana menghisap kuat kulit putihnya, sehingga meninggalkan bekas merah pada disana. Telapak tanganku mencengkram buah dada Briana. Aku meraup semuanya, sampai-sampai Briana merasa agak kesakitan.

Aku tak peduli lagi. Hingga akhirnya.. plash.. plash.. plash.. (8X), spermaku akhirnya muncrat membasahi lubang sorganya. Aku merasakan nikmat yg tiada duanya ditambah dengan goygan pinggul Briana pada saat aku mengalami orgasme.

Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Briana. Batang k0ntolku masih berada di dalam liang kenikmatan Briana. Briana mengusap-usap permukaan punggungku.

“Kamu menyesal, Ana?”, ujarku sambil mencium pipinya. Briana menggeleng pelan sambil membalas membelai rambutku. Aku tersenyum kepadanya. Briana membalas.

Aku meyandarkan kepalaku di dadanya. Jam telah menunjukkan pukul 21:00 dan aku mesti cepat pulang ke rumah, karena tadi aku tdk sempat membuat alasan untuk pulang terlambat. Begitu pula dengan Briana, yg saat itu telah memiliki kebiasan baru selayaknya calon pasangan suami istri, yaitu makan malam bersama Willy di rumah kost mereka.

Sebelum berpisah, kami berciuman untuk beberapa saat. Itu adalah ciuman kami yg terakhir.., percintaan kami yg terakhir.., sebelum akhirnya Willy menikahi Briana, 2 bulan kemudian.

***

Cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, cewek igo, seks igo berjudul “Cerita Dewasa Kesetiaan dan Kenikmatan” hot terbaru 2016

resizedimage-php-bresize resizedimage-php-banner-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*