Alat Bantu Sex Wanita
Balo Goal online online
Isin Poker
Bandar Bola
Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online Pembesar  Penis Vimax
bandar poker bandar poker bola tangkas agen bola online togel singapura agen bandarq online agen ibcbet agen poker
Home » Cerita Dewasa ABG » Cerita Dewasa Rindi Si Gadis Mungil

Cerita Dewasa Rindi Si Gadis Mungil

resizedimage-php-obat

Seksigo kali ini menghadirkan cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, cewek igo, seks igo berjudul “Cerita Dewasa Rindi Si Gadis Mungil” hot terbaru 2016

cerita sex abg
Cerita Dewasa Rindi Si Gadis Mungil

“Rindi…”, melihat kondisi anak gadis ku yg ternyata baik-baik saja membuat hatiku lebih tenang.
“Ma… Rindi kangen…”, dia lalu memelukku dengan erat.

Cerita Ngentot Terbaru | Air mata kami kemudian menetes, rasa haru pun menyelumuti kami. Sesaat aku dan Rindi berbagi cerita tanpa menghiraukan teman-temannya yg lain.

Cerita Mesum Terbaru | Walaupun ia tetap terjerumus di lembah gelap, tapi aku masih sedikit tenang, setdknya bukan tempat bang Solihin yg lebih bobrok. Rindi memilih di sini, aku yakin dia punya alasan tertentu, mungkin karena orang-orang di sini masih muda, jauh beda dengan 1001 malam yg dari berbagai usia.

Cerita Dewasa Terbaru | Rindi lebih akrab dengan mereka yg umurnya tdk begitu selisih jauh, apalagi di sini bebas dari narkotika, walaupun sebelumnya Mamat dan Syamsul pernah berkeja menjadi kurir narkoba. Lain dengan 1001 Malam yg marak sebagai tempat transaksi narkoba.

“Yully…”, aku memperkenalkan diri kepada orang-orang di sini.

Cerita Mesum Terbaru | Sebentar saja aku sudah akrab dengan mereka. Bos di sini adalah Herman, dia lah yg mengucurkan uang untuk membebaskabku dari jeratan bang Solihin, kemudian ada Satorman, Mamat dan Syamsul yg tadinya menjemputku. Selain itu ada teman-teman Herman yg lain; Tono, Andi, Iskandar, Marwan, Budi, dan Eko. Serta tiga gadis pemijit selain Rindi; Ayu, Lisa dan Widya.

Mereka semua baik sekali dengan Rindi, sampai-sampai nanti malam mau mengadakan pesta untuk merayakan kebebasanku. Sebagai tanda terima kasih, aku pun berjanji akan memasak makanan untuk pesta nanti malam.

“Bagus, tante tinggal di sini saja, hitung-hitung bantu siapkan makanan untuk kita..”, ajak Herman agar aku bergabung dengan usahanya.
“Kasihan juga si Rindi tidur sendirian…”, lanjut Herman.

Aku pun mengiyakan karena aku sendiri juga tak tahu harus tinggal di mana lagi. Di gedung ini hanya Rindi dan Satorman saja yg tinggal, sedangkan yg lain kalau sudah malam pulang ke rumah masing-masing, kadang-kadang saja ada yg menginap di sini.

Aku pun mulai keluar berbelanja bahan untuk masakan, Herman meminta Satorman menemaniku, namun sepertinya dia kecapekan karena tadi telah menjemputku, mau tdk mau Tono lah yg ditunjuk kemudian. Wajahnya sedikit aneh, tampak seperti seorang pecandu seks yg berlebihan, menatapku saja seperti menatap mangsa.

Tapi tdk apalah, sudah tdk heran kok diperlakukan seperti ini. Tubuhku yg putih mulus memang sering mengundang nafsu para lelaki hidung belang, apalagi aku adalah keturunan china, walaupun umurku sudah 32 tahun, namun aku tetap menjaga bentuk tubuhku.

Dalam perjalanan aku banyak berbincang dengan Tono, aku duduk di sebelahnya yg sedang menyupir. Sesekali ia meraba pahaku yg kebetulan aku menggunakan rok, sehingga gampang sekali disibak. Ternyata Tono adalah sahabat Herman sedari kecil, mereka sudah seperti saudara dan saling membantu. Orang tua Tono pun bekerja pada orang tua Herman.

Karena rabaan lembutnya di pahaku membuatku sedikit terangsang, tdk ingin mengecewakannya, aku pun membalas meraba pahanya. Tono tersenyum girang, ku buca resleting celananya lalu ku keluarkan penisnya yg sudah ngaceng.

Selama perjalanan aku mengocok penisnya dengab tanganku, dari sejak pergi sampai pulang hingga ke tempat asal kami. “Tar malam boleh dong temani Tono?”, tanya Tono sebelum aku turun dari mobil. Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

Tdk terasa waktu cepat berlalu, mungkin karena aku terlalu berfokus pada masakanku, jam sudah menunjukkan pukul 10, hanya Rindi yg membantuku di dapur, sedangkan yg lain ada di ruang kumpul untuk berkaraoke ria.

“Yuk, kita bawa ke sana…”, aku mengajak Rindi anakku untuk membantuku membawa masakan.

Cukup kaget ketika aku membuka pintu ruangan kumpul. Ternyata semua sudah bugil dan menikmati bir sambil berkaraoke. Hmm, anak muda jaman sekarang terlalu bebas pikirku. Namun lebih kagetnya lagi ku lihat Rindi membuka pakaiannya setelah meletakkan masakan di atas meja. Sebenarnya aku tdk lah awam dengan ini, namun tdk tega saja melihat anakku sendiri yg berbuat demikian.

Aku pun meletakkan masakan yg aku pegang di atas meja.

“Ayo gabung…”, aku ditarik Tono yg lalu memaksaku melepaskan pakaianku.

Tanpa perlawanan, aku mengikuti acara mereka, menari bugil. Para lelaki berkaraoke dan dikaraoke, Rindi melayani bos Herman, aku melihatnya dengab jelas, Rindi menyepong penis Herman dengan nafsu.

Sedangkan Ayu melayani Satorman dan Andi, Widya melayani dua sekawan alias Mamat dan Syamsul, sedangkan Lisa menyepong punya Iskandar dan Marwan. Yg tdk dapat jatah masih asyik menikmati bir sambil merokok. Aku kemudian ditarik Tono,

“Sepongin dong tante…”, pintanya.
“Awas, hyper tuh…”, ejek Eko dan Budi yg sedang minun-minum.

Kumainkan penisnya yg mengeras itu, penuh nafsu Tono mencengkram erat rambutku agar aku terus menyepong penisnya. Sebentar-bentar ia juga menampar pipiku, sungguh benar Tono adalah seorang yg hypersex. Sesekali ia juga menjulurkan tangannya ke bawah untuk meremas susuku.

“Tante masih cantik…”, ia coba merayuku agar aku semakin terangsang.

Ku pandangi yg lain juga masih asyik menyepong, seperti lomba saja, lima perempuan sedang melayani beberapa pria secara bersama-sama.

“Tante… Boleh gak Tono request?…”, tanya Tono.

Aku pun kemudian menghentikan seponganku untuk mendengar apa permintaannya.

“Pengen model bondage…”, lanjutnya sambil tersenyum.

Aku tdk menjawabnya, melainkan meneruskan seponganku. Penisnya terasa hangat dimulutku, ku kulum dan ku jilat. Tono hanya diam, ia tdk kembali menanyakan jawabanku, sungguh pria yg hypersex.

Kulihat Eko dan Budi tdk lagi minum, mereka sudah bergabung dengan yg lainnya. Hanya Herman yg berdua dengan Rindi, tdk ada yg berani rebutan dengannya karena dialah bos di sini. Rindi tdk lagi menyepong, tetapi telah berjongkok di atasnya, percintaan gaya WOT, Rindi terlihat sangat menikmatinya dengan terus menggoygkan pinggulnya untuk mengocok penis Herman.

Di arah lain, Ayu sedang didoggie oleh Satorman. Andi tdk diam saja, ia masih membiarkan penisnya disepong oleh Ayu. Depan belakang diberi penis, terlihat Ayu juga sudah cukup profesional. Budi yg tadi minum bergabung dengan Marwan dan Iskandar untuk menikmati Lisa, ada yg mengentotnya, ada yg disepongnya, dan ada yg menyedoti susunya.

Sama halnya keadaan Widya, ia juga melayani tiga pria sekaligus, Mamat, Syamsul dan Eko. Semua mendapat jatah bergiliran, dari melumat bibirnya, menyedoti susunya, menusukkan penis ke vagina nya, dan adegan-adegan lain yg bergaya threesome.

Seponganku mungkin sudah membuat Tono sedikit bosan sehingga ia langsung mendorongku jatuh, dan lalu ia melumat susu ku dengan kasar. Tubuhku ditindihnya hingga aku sulit bernafas. Dari bibir hingga ke dada, ia menciumin seluruh tubuhku.

Sambil menyedot susuku, Tono memainkan jarinya di arah vaginaku. Mungkin ia sedikit marah karena aku tdk menjawab kemauannya untuk menggunakan gaya bondage.

Puting susuku terasa perih, Tono seperti tanpa perasaan menyedot dan menggigitnya dengan kesetanan. Vaginaku pun terus dikocok dengan jarinya secara paksa. Aku hanya bisa bertahan mengikuti kemauannya. Sial pikirku kalau ketemu pria hyper seperti ini. Dulu di markas bang Solihin juga sering ketemu yg seperti ini, namun tdk begitu kasar.

Tono lebih kasar dari pada pelanggan dulu, susu dan pantatku pun ditampar hingga kemerahan. Tak mau berlama-lama, Tono pun bangkit mengambil tas nya dan mengeluarkan seutas tali.

“Sorry tante…”, ia tersenyum padaku. Aku hanya berbaring lemas di lantai.

Kemudian Tono mengikat tanganku kebelakang sambil berbisik,

“Tante pura-pura berontak saja…”. Gila, pikirku, nih anak sudah keracunan video porno kayaknya.

Agar ia puas, aku pun pura-pura berontak, aku menendangkan kakiku agar Tono menjauh.

‘PLLAAAKKKK…..”, Tono menampar pipi ku dengan keras hingga aku pun meneteskan air mataku.

Sekujur tubuhku diikat dengan tali hingga aku tdk bisa bergerak, hanya kakiku saja yg dibiarkan mengangkang. Bukan hanya itu, Tono pun melakban mulutku dan kemudian ia pun mengeluarkan sextoy dari tasnya, sebuah benda panjang yg berbentuk penis besar.

Aku melihatnya menekan tombol yg ada di gagangnya, kemudian penis itu bergerak dan berputar seperti bor dan menggeliat seperti ulat. Benda itu terbuat seperti dari bahan karet, Tono pun kemudian berusaha menusukkannya ke lubang vaginaku.

“Hmmmmm….”, aku tdk bisa bersuara, mulutku tertutup lakban, benda besar itu terasa tdk muat di vaginaku.

Sakit sekali hingga aku kembali menangis. Benda itu terus mengobok-ngobok dalam vaginaku, berputar-putar seperti bergejolak. Tono tak mau menariknya untuk waktu yg cukup lama, sambil menusukkan benda itu, ia terus menyedot susuku.

Aku tdk jelas memandang sekitar, mataku penuh dengan air. Kurasa yg lain masih asyik bercinta. Mungkin saja mereka sudah berganti posisi atau bahkan sudah berganti pasangan. Hanya aku saja yg diperlakukan begini. Puting susu ku ditarik Tono hingga mancung ke depan.

Aku juga merasakan telah mencapai orgasme, air kenikmatanku sudah muncrat keluar, membasahi sextoy dan tangan Tono, namun dia tetap saja tak mau menarik keluar sextoy nya itu. Lelah sekali diperlalukan seperti ini, mungkin dinding vaginaku pun sudah koyak, karena benda yg besar itu tanpa henti berputar, terasa panas sekali.

Puas menyodokkan penis mainan itu, Tono akhirnya menarik keluar dari dalam vaginaku. Sedikit tenang karena tdk dipaksa seperti tadi lagi, karena sekarang ku lihat Tono akan memasukkan penisnya yg tdk begitu besar ke dalam vaginaku. Untuk mendapatkan sensasi, Tono menampar pipiku dan menjambak rambutku hingga aku hanya bisa merintih tanpa bisa berteriak karena mulutku masih tertutup lakban.

Aku terus digenjot oleh Tono, badanku terasa sakit karena ikatan tali di tubuhku sangat erat sekali, semoga saja ini cepat berlalu. Tiba-tiba ada seseorang mendekati kami, kucoba lihat dengan jelas, ternyata itu adalah Herman, ia langsung menarik lakban yg menutupi mulutku dengan kasar,

“Mama Rindi… Sepongin dong…”, ia lalu mendekatkan penisnya ke mulutku.

‘Hoek’ mual sekali bagiku karena penisnya masih basah, karena barusan saja Herman menyetubuhi anakku Rindi, sehingga bekas-bekas cairan sperma masih melekat di penisnya. Mau tak mau harus ku kulum penisnya itu. Badanku bergoncang kuat, atas bawah mendapatkan pekerjaannya masing-masing.

Yg lain entah bagaimana, baik Rindi, Ayu, Lisa maupun Widya.

Yg jelas, ini adalah pesta seks yg cukup melelahkan. Ku lihat beberapa pria sudah istirahat, mereka duduk dipojokan sambil merokok. Gadis lain sudah terkapar tak bertenaga melayani beberapa pria, hanya aku yg masih bermain cinta.

“Bos, Tono minta ijin semprot…”, pinta Tono yg sudah mau berejakulasi setelah setengah jam meenggenjot vaginaku.

Herman mencabut penisnya dari mulutku, lalu Tono menggantikan posisinya, Tono mau aku mengulum penisnya hingga cairan spermanya keluar dan memenuhi mulutku.

Mulutku sudah belepotan dengan sisa sperma Tono yg sebagian sudah tertelan, Tono pun menjauh dan berkumpul dengan yg lain untuk menghabiskan bir dan masakan yg aku buat. Sekarang giliran bos Herman yg menggenjot vaginaku, dengan tubuh masih terikat, aku terus digoyg.

Tak berhenti, kini Satorman datang bersama Andi untuk bergantian memintaku sepong. Kelihatannya mereka sudah bosan dengan Rindi, Ayu, Widya dan Lisa. Dengan keadaan terkapar terikat, tubuhku bergoyg mengikuti irama genjotan Herman, dan mulutku terus disumpal penisnya Satorman dan Andi.

Tak lama dari itu, kulihat pria yg tadinya beistirahat sudah mulai segar kembali dan antri dibelakang Satorman dan Andi. Mereka mengerumuniku, menjamahku, dan meremas-remas buah dadaku.

Hanya Tono yg masih beristirahat sambil merokok, tapi penisnya tdk istirahat, ia masih meminta Widya untuk memainkan penisnya. Sedangkan Ayu, Rindi dan Lisa menyantap makanan dan minuman yg tersisa. Seperti halnya Tono, Herman pun menarik penisnya dari vaginaku dan berejakulasi di mulutku. Kini giliran Satorman yg mengambil posisi Herman.

Aku sudah capek, vaginaku pun sudah perih terasa. Tapi mereka seolah tdk mengerti, mungkin karena aku barang baru bagi mereka. Aku sudah tak mampu melihat sekitar, hanya merasakan genjotan para lelaki itu, dan muntah-muntah karena menelan peju mereka. Setelah Satorman, giliran Andi, seterusnya entah siapa lagi, aku sudah tak sadarkan diri karena kecapekan, yg jelas semuanya mendapatkan giliran.

Ketika aku terbangun, ternyata pesta mereka belum usai, Rindi dikerumuni Syamsul, Andi, dan Tono, sedangkan Ayu menyepong Satorman sambil didoggie oleh Mamat, gadis lainnya si Widya dan Lisa sedang dinikmati pria lainnya, hanya bos Herman yg tdk kelihatan. Mungkin mereka selalu beristirahat sejenak sehingga stamina mereka begitu kuat dari malam hingga pagi hari.

Aku tdk mau memperdulikan mereka lagi, dan berpura-pura tertidur agar tdk perlu capek lagi melayani mereka. Akhirnya siang, aku dibangunkan Rindi dan melepaskan ikatanku, aku pun segera bangkit untuk mandi.

Mereka ternyata sudah mandi terlebih dahulu, hanya beberapa orang saja yg masih tiduran di lantai.

“Habis mandi, siapin makanan ya ma… Bos Herman pergi jemput tamu…”, pesan Rindi sebelum aku masuk ke kamar mandi.
“Huah… Capeknya…”, desahku di dalam kamar mandi sambil diguyur air hangat dari shower, cukup segar merasakan air yg membasahi tubuhku.

Setelah ini aku harus memasak, tdk tahu siapa yg dijemput oleh Herman.

Jam sudah menunjukkan pukul 16:00, Herman yg ditemani Satorman belum kunjung pulang. Aku dan teman yg lain cukup khawatir, takut makanan yg ku siapkan tdk segar lagi. Tono dan beberapa pria berjaga dibawah, sedangkan para gadis masih santai bersamaku di ruang kumpul, karena tempat usaha kami terhitung baru, masih jarang konsumen yg singgah ke sini.

“Rin, nanti makanannya dipanasin saja ya, mama capek banget nih”, aku meminta Rindi untuk membantuku.
“Oke ma, mama istirahat saja…”, jawab Rindi.

Aku pun masuk kamar dan langsung menghempaskan tubuhku ke ranjang. Capeknya hari ini, aku pasti akan nyenyak tidur di sore ini.

Bagaimanapun pesta tadi malam sangat membekas dipikiranku, karena aku belum pernah mengalami pesta seks ramai-ramai begitu, apalagi bersama dengan Rindi anakku yg juga ikut berpesta.

***

cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, cewek igo, seks igo berjudul “Cerita Dewasa Rindi Si Gadis Mungil” hot terbaru 2016

resizedimage-php-bresize resizedimage-php-banner-1