Obat Pembesar Penis
musimqq-920x120
Bandar Bola
Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online Pembesar  Penis Vimax ezgif-com-add-text
bandar poker bandar poker bola tangkas agen bola online agen ibcbet poker
Home » Cerita Dewasa Tante » Cerita Dewasa Ibu Rumah Tangga Kesepian

Cerita Dewasa Ibu Rumah Tangga Kesepian

resizedimage-php-elang resizedimage-php-obat

Seksigo kali ini menghadirkan cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, cewek igo, seks igo berjudul “Cerita Dewasa Ibu Rumah Tangga Kesepian” hot terbaru 2016 – Baca juga: Cerita Dewasa 2016 Hanya Karena Mirip

CERITA SEX TANTE

Cerita Dewasa Ibu Rumah Tangga Kesepian

Aku tinggal di kompleks perumahan elit di Yogyakarta. Suamiku termasuk orang yg selalu sibuk. Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kejaksaan Yogyakarta tugasnya boleh dibilang tdk kenal waktu. Usiaku sudah 35 tahun selisih tiga tahun lebih tua suamiku. Tinggi 158 cm dan berat 50 kg, orang-orang bilang tubuhku bagus, tapi menuruntuku biasa–biasa saja. Aku punya dua putra, anak pertama kelas tiga SMP dan anak kedua kelas satu SMP. Sebut saja namaku Ina.

Aku melakukan kesalahan yg sangat fatal dalam hidup ini karena aku telah berselingkuh dengan seseorang yg aku belum begitu mengenalnya.

Singkat cerita, kejadian ini pada tanggal 6 Maret 2012, dimana waktu itu aku berkunjung kekantor suamiku setelah aku pulang dari mengajar, oh ya, aku seorang guru di salah satu SMP Negeri dan Swasta di Yogyakarta.

Dari sekolahan aku langsung melucur kekantor Kejaksaan Yogyakarta, tapi diperempatan sebelah timur tugu aku melanggar lampu merah dan akhirnya aku dikejar oleh salah seorang polisi yg sedang bertugas, sang Polisi berhenti memotong laju kendaraanku aku pun bergegas menginjak rem.

“Selamat Siang Bu..!”
“Siang pak”, begitu sahutku.
“Maaf Bu, Anda telah melanggar lampu merah, Tolong tunjukan SIM dan STNK Anda.”

Aku pun mengeluarkan dompet dan menyerahkan SIM beserta STNK.

“Maaf Bu, Anda Ikut saya kepos Polisi.”

Aku pun menurutinya karena aku juga merasa bersalah.

Polisi muda tersebut masih berusia sekitar 28 Tahun berinisial “R”.

Kami pun sama–sama menuju pos polisi.

Setelah sampai dipos polisi saya diberi alternatif untuk mengembalikan SIM saya. Yg pertama aku harus sidang pada tanggal 11 Maret dan aku harus membayar denda sebesar Rp. 20.000,00. Tanpa ambil pusing akupun langsung membayar denda karena aku juga tergesa–gesa menuju kantor suamiku, karena suamiku telah menungguku untuk pulang bareng, kebetulan suamiku tdk bawa mobil karena dipakai salah satu temannya.

Ku akui kalau polisi tersebut tampan, badan tinggi dan tegap. Setelah proses pembayaran denda selesai, sang polisi bertanya.

“Maaf Bu, kenapa Ibu kelihatannya Tergesa-gesa?”
“Iya ini pak, saya sudah ditunggu suamiku dikantornya.”
“Kalau boleh tahu kantornya dimana Bu?”
“Kantor Kejaksaan Pak”, aku jawab pertanyaannya.
“Oya, Suami Ibu siapa namanya, kalau boleh tau”?

“Pak Guruh (bukan Nama Sebenarnya)”
“Ha… Pak Guruh”, Polisi merasa terkejut.
“Iya memang kenapa”, tanyaku kepada polisi muda.
“saya kenal baik bu dengan dia.”
“Oh ya… Bapak kenal dimana?”, Kembali tanyaku.
“saya sering kekantor kejaksaan Bu, jadi ya kenal dengan pak Guruh.”

“Oh… Iya sich polisi sama kejaksaan masih saudara ya”, begitu gurauku dengan polisi muda.
“Ah… Ibu bisa saja. Pak Guruh beruntung ya punya istri secantik ibu.”
“Terima kasih pak atas pujiannya, tapi saya boleh pergi pak. Kasihan suamiku sudah menunggu”, begitu sahuntuku sama polis muda.
“Oh… Silahkan bu, kalau ibu butuh sesuatu yg berhubungan dengan polisi silahkan hubungi saya bu”, sambil kasih secarik kertas berisikan nomor hp dia.

Akupun menerimanya dan langsung pergi kekantor suamiku. Setiba dikantor suamiku, suamiku sudah menunggu diruang tamu, sedang bincang–bincang dengan rekan kerjanya.

“Kok mama lama banget sich, kemana aja?”, tanya suamiku kepadaku.
“Maaf pa, tadi saya ketilang”, jawabku singkat.
“Kok mama tdk bilang, kan nanti bisa tdk bayar denda”, jawab suamiku.
“Gak masalah pa, lagi pula mama yg salah.”

“Emang siapa yg tilang kamu ma?”, tanya suamiku.
“Dia namanya Teguh (Bukan nama sebenarnya)”, begitu jawabku sama suamiku.
“Ha… Teguh, mama tdk bilang kalau mama istriku?”
“Bilang sich pa, tapi pas sudah membayar denda, udahlah pa tdk usah dibahas lagi”, begitu aku meyakinkan suamiku biar tdk berkepanjangan.
“ya sudah ayo pulang”, ajak suamiku.

Setelah suamiku pamit kepada rekan–rekannya, langsung aku dan suamiku berboncengan menuju rumah.

Keesokan harinya hari kamis tanggal tujuh Maret 2012, kebetulan aku tdk mengajar, karena hari kamis tdk ada jam pelajaran yg saya ajarkan. Akhirnya aku dirumah sendiri karena anak–anak sekolah dan suami kekantor yg ad Cuma pembantu. Sekitar pukul 10 siang telepon rumah berdering. Aku pun lansung angkat teleponnya. Cerita Sex Ibu Rumah Tangga Kesepian

“Halo… Selamat pagi”, jawabku.
“Halo ma ini papa, tadi polisi yg menilang kamu kemarin datang kekantor minta maaf sama papa, dan mau ngembaliin uang denda kemarin”, kata suamiku ditelepon.
“Trus gimana pa?, ya udahlah pa tdk usah diusut lagi.”
“Aku tdk ngapain–ngapain kok, tadi dia sendiri yg datang kekantor dan minta maaf”, begitu jawab suamiku.
“Ya udahlah, terima aja uang dendanya, selesai kan?”, akupun menjawab

“Sekarang dia menuju rumah kita, karena aku bilang minta maaf aja langsung ma istriku”, jawab suamiku.
“Ihh, ngapain pa?, kayak kurang kerjaan aja?”, aku membalas perkataannya.
“Ya udah tdk masalah, ntar dia cuma minta maaf kok. Dah ya ma, papa lagi kerja nich”, begitu kata suamiku.
“Ya udah pa, da…”, aku pun tutup teleponnya.

Selang 30 menit ada kendaraan sepeda motor Honda Tiger datang, aku sedang menonton TV diruang keluarga.

“Permisi… Permisi…”, panggil seseorang dibalik pintu depan.
“Bi… Tolong buka pintu, ada tamu”, aku menyuruh pembantuku.
“Iya bu”, jawab pembantuku.
“Maaf mbak bu Ida ada?”, tanya seorang tamu tadi.
“Ada pak, tapi bapak siapa ya?”, Tanya kembali pembantuku.
“Oh ya, bilang saja saya Teguh. Ibu dah tahu kok”, jawabnya.

Aku yg didalam ruang keluarga mendengar percakapannya, aku terkejut setelah yg datang adalah Teguh sang polisi muda yg tampan, tegap dan tinggi.

“Silahkan masuk pak”, pembantuku bersikap sopan terhadapnya.

Gak lama kemudian pembantuku datang.

“Bu ada yg cari ibu?”, kata pembantuku.
“Siapa bi?”, tanyaku pura–pura tdk tau.
“Teguh bu, katanya ibu sudah tau”, jawab pembantuku yg polos.
“Ya udah sana masak lagi”, begitu perintahku sama pembantuku.

Akupun berdiri menuju ruang tamu.

“Eh.. Pak Teguh, ada apa ya pak? Apa masih perlu syarat lagi untuk ditilang?”, kataku sedikit menyindir.
“Gak bu, jadi tdk enak nich. Saya hanya minta maaf bu”, jawab Teguh.
“Ngapain minta maaf, kan saya yg salah dan kamu sudah sesuai prosedur untuk menilang saya”, aku pun menjawab.
“Iya sich bu, tapi saya tdk enak saja”, Kembali dia berkata dengan nada menyesal.
“Ya sudah tdk usah dipikirkan lagi”, sahutku.
“Iya bu terimakasih”, jawabnya.

“Kok bapak tdk bertugas”, tanyaku.
“Saya mohon jangan panggil pak dong, panggil nama saja”, jawabnya.
“Oya maaf. Teguh kok tdk tugas?”, tanyaku kembali.
“Saya nanti malam piket bu.”, jawabnya dengan polos.
“Oh… Jadi kesini intinya hanya minta maaf ya?”, tanyaku kepada Teguh.

“Iya bu, maaf bu kok sepi emang rumah sebesar ini dihuni siapa saja bu?”, tanya Teguh.
“Oh… Anak–anak lagi sekolah, bapak dikantor, jadi dirumah cuma aku dan pembantuku, tapi kalau aku kerja ya cuma pembantuku”, jawabku jelas.
“Rumah sebesar ini cuman dihuni empat orang plus pembantu bu?”, tanyanya kembali.
“Iya mang napa?”, tanyaku kembali.

Ku akui rumah kami memang besar bertingkat, kamar tidur ada 6, diatas dua dibawah tiga dan satu kamar pembantu. Untuk kamar atas khusus kamar aku dan suamiku dan satu kamar atas untuk kamar tamu. Anak–anakku punya kamar sendiri–sendiri dibawah.

“Gak apa – apa Cuma tanya aja bu”, begitu jawab Teguh.

Pukul sudah menunjukan pukul 11.00 WIB kami asik ngobrol. Diwaktu ngobrol asik pembantuku membawa minuman teh buat Teguh dan aku.

“Silahkan diminum Guh”, perintahku sama Teguh.
“Iya bu, terimakasih”, jawabnya.

Kami pun menikmati teh yg dibuat oleh pembantuku. Dan tiba–tiba…

“Ibu cantik sekali”, kata Teguh.
“Maaf.. Apa Guh?”, aku pura–pura tdk dengar dan sedikit kaget.
“Iya ibu cantik sekali, pak Guruh beruntung punya istri kayak ibu yg cantik dan pinter”, katanya kembali memujiku.
“Terimakasih atas pujiannya, tapi aku sudah berusia 35 tahun jadi dibandingkan dengan perempuan yg seusia kamu pasti lebih cantik, apa lagi aku bersuami dan punya anak lagi”, jawabku sambil menyakinkan kalau aku bersuami.

“Tapi ibu tetep cantik kok, walaupun punya anak”, dia kembali memujiku.
“Terimakasih ya, tapi Teguh jangan memuji terus, karena tdk enak aja kedengaranya”, jawabku halus.
“Apakah saya salah bu, jika kagum terhadap ibu”, dia mulai merayu lagi.
“Gak salah kok, Cuma tdk enak aja. Apa lagi aku dah bersuami dan anak–anakku dah beranjak dewasa”, jawabku kepada Teguh.

Dia berdiri dan duduk disamping kananku. Aku mulai merasa takut, aneh pokoknya sudah tak karuan perasaanku. Aku sedikit menggeser kekiri, dia mengikuti geser pula, akhirnya aku berdiri karena aku merasa terlecehkan. Cerita Sex Ibu Rumah Tangga Kesepian

“Maaf Guh, jangan begitu tdk enak sama pembantuku, apalagi aku dah bersuami”, aku berkata tegas.

Tapi dia ikut berdiri dan kedua tangannya memegang pundakku dan ditekan kebawah agar aku kembali–kembali duduk disofa.

“Maaf bu, tapi saya benar–benar kagum terhadap ibu, ibu cantik bahkan kecantikan ibu mengalahkan semua wanita yg masih berumur belasan tahun. Benar bu ini semua kejujuranku terhadap ibu, aku bisa saja mendapatkan wanita lain tapi menuruntuku mereka tdk menarik bagiku tapi ibu yg menarik hatiku”, katanya lugu, apakah dia jujur apa tdk tapi yg jelas sudah lama suamiku tdk memujiku bahkan hampir tdk pernah memujiku.

“Maaf Guh aku dah tua, sudah punya anak dan suami, aku sudah berkeluarga dan aku merasa sangat berbahagia dengan keluargaku saat ini. Jadi kumohon jangan lakukan lagi”, pintaku terhadap Teguh walaupun tak pungkiri aku merasa senang dipuji.

Teguh mulai mengeluskan tangannya dirambuntuku lurus yg panjang sambil berkata:

“Ibu, aku tdk bermaksud merusak kebahagiaan ibu, tapi aku hanya mengatakan kalau aku suka sama ibu walau umurku lebih muda tujuh tahun dibawah ibu. Tapi menurutku ibu tetap cantik dan menarik.”

Dia mulai berani mendekap aku. Jantungku berdebar tak karuan, aku berontak tapi dia tetap tdk melepaskan pelukannya.

“cukup Teguh, kamu jangan kurang ajar gini dong”, gerutuku masih dalam peluknya.
“Coba nikmati bu, jangan berpikiran ibu berkhianat terhadap suami ibu, tapi berpikirlah bagaimana agar ini terasa indah”, begitu katanya menyakinkanku.

Dilepas pelukannya dan dia memandangi wajahku. Dan kuakui dia anak yg tampan. Dan tanpa sadar dia telah mencium pipiku, dia melihatku dengan mata sayu lalu tiba-tiba dia mulai mencium pipiku kembali. Ku akui aku menikmati ciuman mesranya dipipiku. Dia kembali memelukku, tapi ini apa yg kurasakan dia menjilati kupingku, terus menjilati leherku kembali lagi kekuping terus menerus, aku hanya diam terpaku, akhirnya aku mendesis lirih.

Dan seperti kehilangan kontrol akupun membalas menjilati kuping. Teguh membalas tdk kalah jilatannya. Napasku terengah engah tanda napsuku mulai naik. Ternyata dia tahu aku telah terangsang dengan tingkahnya.

Tiba-tiba tangan kirinya dia taruh ke pahaku. Tetapi saat aku tdk menunjukkan reaksi, tangan Teguh mulai mengelusi pahaku kemudian menaikkan elusannya ke peruntuku kemudian ke dadaku. Aku tepis kuat-kuat. Aku bisikkan agar jangan tdk sopan padaku. Dia tunjukkan celana dalamnya yg telah terdorong mencuat karena tongkolnya yg ngaceng berat sambil telunjuknya menunjuk bibirnya agar aku diam. Kemudian dia perosotkan celananya hingga tongkolnya yg cukup gede dan ujung kepalanya yg merah berkilatan itu nampak tegak kaku mencuat dari rimbunan bulunya yg masih halus tipis.

Cerita Dewasa Ibu Rumah Tangga Kesepian

Aku kaget banget dengan ulah Teguh ini. Yg aku takuntukan kalau-kalau pembantuku mendengar, masuk ke ruang tamu dan melihat apa yg terjadi di ruang tamu ini. Bisa-bisa aku dianggap serong sementara suamiku masih berada di kantor. Aku berontak untuk berdiri dan meninggalkan ruang tamu. Tetapi Teguh lebih sigap dan kuat. Direnggutnya rambutku dengan kasar hingga aku nyaris terjatuh. Kemudian dengan paksa mukaku ditundukkan ke arah selangkangannya. Dia arahkan tongkolnya ke mulutku. Dia maksudkan agar aku mengulumnya. Kurang ajar dan kebangetan banget, nih anak. Tahu bahwa ada pembantuku di dapur dia berani mencoba melakukan macam ini padaku.

Tapi aku tetap tdk mau.

Dengan lembut dia menidurkan aku disofa dan dengan lembut pula tanpa kata kata, dia membuka kancing bajuku dan dia menyentuh kedua bukit kembarku, aku mendesis desis. Dia lepas bukit kembarku dan berdiri sambil menutup celananya kembali yg sempat dikeluarkan k0ntolnya. Dia berkata:

“Bu, kita kekamar ibu, dan suruh pembantu ibu pergi kemana gitu biar kita senang–senang tanpa ada yg memganggu…”

Aku diam terpaku dan masih bimbang apakah aku menerimanya apa menolaknya, apa aku sudah berselingkuh. Aku masih terdiam sementara Teguh menunggu jawabanku. Aku masih berpikir apa aku harus menampar muka Teguh dan mengusirnya. Tapi jujur kuakui kalau perilaku Teguh membuat aku terangsang. Dan akhirnya..

“Bi.. Bibi..”, Aku memanggil pembantuku.

Pembantuku datang dengan lari–lari kecil dan menyahut panggilanku.

“Ada apa bu?”
“Bibi sekarang ke pasar beli buah buat persediaan anak–anak”, perintahku.

Kebetulan buah–buahan yg dikulkas telah habis.

“Tapi bu, saya sedang masak”, bantah pembantuku.
“ya sudah tinggalkan saja, nanti sekalian mampir ke Rumah makan padang beli lauknya saja buat makan siang anak–anak”, perintahku kembali sama pembantuku.
“Baik bu”, jawab pembantuku.

“Oh ya sekalian jemput dwi ya, habis dari beli buah jemput Dwi”, perintahku lagi sama pembantuku.

Dwi adalah putraku ke dua kelas satu SMP, biasanya pulang jam dua siang. Anak pertamaku karena kelas tiga jadi ada les tambahan.

“Baik bu”, jawab pembantuku.

Sambil ku beri uang belanja dan kunci motor aku sempat melirik Teguh yg tersenyum–senyum padaku. Akupun belum begitu meresponnya.

Pembantu telah pergi dan akhirnya tinggal aku dan Teguh, sempat melihat jam menunjukan pukul 12. Dan nanti kurang lebih jam 2.15 siang pembantuku akan kembali bersama anakku, itu artinya aku masih punya waktu 2jam untuk bersama Teguh. Tapi jujur aku masih merasa bingung apa harus aku lakukan atau tdk, karena aku merasa bahagia dengan keluargaku saat ini juga, tetapi tak dapat kupungkiri aku sudah merasa terangsang dengan perilaku Teguh.

Tiba–tiba Teguh berkata.

“Bu, ayo keruang keluarga sambil nonton tv”, ajak Teguh.

Akupun melangkah keruang keluarga dengan Teguh, dan setelah sampai diruang keluarga, kami duduk di karpet depan tv yg masih hidup. Tanpa basa basi, langsung saja dia merangkulku dan merobohkan aku dikarpet posisiku ditelentangkan, aku hanya protes,

“Guh… apa-apaan siih..”, katanya kita mau ngobrol saja kok begini…”

Dan sambil mencari kaitan BH di belakang tubuhku, dia menjawab saja,

“Sebenarnya… aku pengen bu…”
Setelah kaitan BH-ku terlepas, langsung saja BH-ku dibuka dan dijilat payudaraku serta dia menyedot-sedot puting susuku yg putih dan besar dan tanpa sadar aku mencoba memasukkan tangan kananku ke dalam celana Teguh mencari cari k0ntol yg sempat diperlihatkan kepadaku, tetapi karena celananya agak sempit sehingga aku kesulitan memasukkan tanganku dan langsung saja aku berkata entah sadar apa tdk:

“Guh, bukain celanamu, aku yoo.., kepingin… pegang punyamu”, pintaku.

Dan tanpa melepas puting susuku yg masih dia sedot, dia mulai melepas celana dan celana dalamnya sekaligus sehingga dia sekarang sudah telanjang bulat dan k0ntolnya yg setengah berdiri itu langsung saja kupegang dan segera saja aku berkomentar,

“Guh, kok masih lembek.. Gak kayak tadi?”
“Coba saja di isap… pasti sebentar saja sudah tegang, mau?”, tanya Teguh.

sambil memandangi wajahku, dan akupun mulai menjilatinya, toh aku juga pernah sama suamiku.

Dia melepas isapan mulutnya di payudaraku dan bangun serta duduk di dekat kepalaku sambil sedikit dia memiringkan badanku kearahnya dan dengan tdk sabaran langsung saja batang k0ntolnya yg masih setengah berdiri kupegangi dan kepalanya ku jilat-jilat sebentar dan langsung dimasukkan ke dalam mulutku. Dia memutar badanku setengah tengkurap, aku segera saja memaju-mundurkan kepalaku sehingga k0ntolnya keluar masuk di mulutku.

“Aah.., ooh, Buuu… teruss… ooh… enaaknyaa, Bu.. oohh”, kata Teguh sambil membelai rambut di kepalaku dan sesekali dia menjambak dan baru sebentar saja aku menghisap k0ntol Teguh, terasa k0ntolnya sudah tegang sekali.

Tiba-tiba saja k0ntolnya dikeluarkan dari muluntuku dan langsung dia berkata.

“Buuu…, isap.., lagii.., doong”, pintanya kepadaku.

Tetapi aku menjawab dengan sedikit meminta.

“Guh… tolong, punya saya juga…”

Ternyata dia langsung mengerti apa yg aku mau dan langsung saja dia merubah posisi dan dia menjatuhkan dirinya tiduran ke dekat kaki ku dan dia menarik celana dalamku turun serta melepas dari badanku.

Dengan perilakunya aku bergerak dan berganti posisi tidur di atas badan Teguh sehingga mekiku tepat berada di mulut Teguh, maka tanpa bersusah payah dia sibak bulu-bulu mekiku yg menutupi bibir mekiku dan setelah itu dia membuka bibir mekiku dengan kedua jari tangannya dan dia menjulurkan lidahnya menusuk ke dalam mekiku yg sudah basah oleh cairan. Ketika ujung lidahnya menyodok kelubang mekiku, langsung saja ku menekan pantatku ke wajahnya sehingga terasa dia sulit bernafas dan langsung ku kocok-kocok k0ntol Teguh dengan jari tanganku.

Ketika lidahnya menjelajahi seluruh bagian mekiku dan bibir mekiku tetap dia pegangi, aku lalu menaik-turunkan pantatku dengan cepat dan aku merasa keenakan dijilati. Aku mendesah yg agak keras karena terlalu nikmat.

“ooh… Guh, aahh teruus.. Guh, aduuh… enak.. Guh… Guh… ooh…”, desahku.

Dan sesekali clitorisku yg sedikit menonjol itu dan sudah mulai terasa mengeras, dia hisap-hisap dengan mulutnya sehingga desahan demi desahan keluar dari mulutku, “ooh… itu.., Guh, enaak, Sayang”, desahku kenikmatan dengan perilaku Teguh.

Dan aku melepaskan pegangan dik0ntolnya Teguh dan Aku menjatuhkan diri dari atas tubuhnya dan tidur telentang sambil memanggilnya.

“Guh, sayang, sini, Saya sudah nnggak tahaan… ayoo… sini… Guuuuh”, memintaku sama Teguh sang polisi muda.

Dia segera saja bangun dan membalik badannya serta dia menaiki tubuhku dan aku ketika tubuhnya sudah berada di atasku, aku membuka kakiku lebar-lebar dan dia tempatkan kakinya di antara kedua kakiku. Dengan nafas terengah engah dan mencoba memegang k0ntolnya aku berkata,

“Guuuh.., cepat dong, masukin. Saya sudah tdk tahan.”
“Tunggu sayang, biar Aku saja yg masukin sendiri”, kata Teguh sambil memindahkan ke atas, tanganku yg tadi mencoba memegang k0ntolnya tetapi rupanya aku akui sudah tdk sabaran lalu kembali aku berkata.
“Guh, ayoh dong, cepetaan, dimasukiin, punyamu itu!”, aku memintanya kembali.

Dan tiba–tiba Teguh memegang k0ntolnya dan menggesek-gesekkan di belahan bibir mekiku beberapa kali dan kemudian dia mulai menekan ke dalam serta,

“Blees”, terasa dengan mudahnya k0ntolnya masuk ke dalam lubang mekiku dan aku terkaget bersamaan k0ntol Teguh masuk kedalam mekiku.

“Aduh… Guuuh”, aku sambil mendekap Teguh erat-erat.
“Sakit, sayang?”, tanya Teguh.

Dan aku hanya menggelengkan kepalaku sedikit dan aku menciumi disekitar telinga Teguh aku pun berbisik,

“Enaak, Guh…”, aku mendesis.

Dia menciumi wajahku dan sesekali dia hisap bibirku sambil dia memulai menggerakkan pantatnya naik turun pelan-pelan, aku mencengkram punggungnya Teguh dengan keras. Dan aku berkata sambil menikmati goyangan pantat Teguh.

“Guh, coba diamkan dulu pantatmu itu…”, pintaku sama Teguh.

Teguhh pun menuruti saja permintaanku. Aku langsung mempermainkan otot-otot meki kenikmatanku, dan Teguh terasa k0ntolnya seperti di pijat-pijat serta tersedot-sedot dan jepitan serta sedotan mekiku semakin lama semakin kencang sehingga k0ntolnya terasa begitu nikmat dan akupun menikmatinya. Dan ternyaya Teguh terlena keenakan.

“oohh… sshh… Bu… enaknya… ooh… terus Bu, aduuh, enaak!”, Teguh merasa menikmati sedotan mekiku.

Dan Teguh sudah tdk dapat tinggal diam saja, langsung pantatnya naik turun sehingga k0ntolnya keluar masuk lubang mekiku serta terdengar bunyi, “Crreett… crettt…”, secara beraturan sesuai dengan gerakan k0ntolnya keluar masuk mekiku yg sudah sangat basah dan becek.

“Guhh, cabut dulu punyamu, biar aku lap dulu punyaku sebentar”, kataku sama Teguh.
“Biar saja Bu… nikmat begini kok”, sahutnya sambil meneruskan gerakan k0ntolnya naik turun semakin cepat dan aku tdk memperhatikan jawabannya karena merasa kenikmatan yg sangat enak.
“ooh… sshh… aakk, aduuh, Guuuh, teruskan Guh, ooh..”, sambil mempercepat goyangan pinggulku serta kedua tanganku yg dipunggungnya selalu menekan-nekan disertai sesekali aku menyempitkan lubang mekiku sehingga terasa k0ntolnya terjepit-jepit dan aku menikmati hal seperti ini.

“ooh.. Bu… sshh.. oohh.. enaak.., Buuu.. aku, aku sudah nggak kuat, mau… keluarr, Bu…”, desahanknya yg sudah tdk kuat lagi menahan keluarnya air maninya.
“Guh, ayoo… Guh aduuh, ooh… Aku juga, ayoo sekaraang, aakkrr.., Sayang”, dan dia melepas air maninya semuanya ke dalam mekiku sambil dia menekan k0ntolnya kuat-kuat dan aku pun mendekapnya dengan sekuat tenagaku.

Baru sekarang kuraih kenikmatan yg luar biasa. Sungguh aku merasa nikmat, walau aku merasa bersalah terhadap keluargaku. Dia terkapar di atas badanku dengan nafas ngos-ngosan demikian juga dengan nafasku yg sangat cepat. Setelah nafas kami mulai mereda, lalu dia berkata,

“Bu, aku cabut ya punyaku”, dan sebelum dia menghabiskan perkataannya, aku cengkeram punggungnya dengan kedua tanganku dan aku berkata.
“Jangaan duluu, Guh, Aku masih ingin… punyamu tetap ada di dalam.”

Dia pun menuruti kata–kataku. Setelah agak lama dalam mekiku, dikeluarkan k0ntolnya dari mekiku. Kamipun merapikan diri. Setelah kulihat jam ternyata menunjukkan pukul 13.15, Teguh pun berpamitan akan pulang sambil melumat bibirku. Aku pun membalas ciuman mulutnya.

“Terimakasih bu, aku sangat puas”, kata Teguh berbisik dikupingku.

Aku hanya diam tak menjawab, Teguh pun langsung keluar rumah dan pergi.

Aku merasa aneh dengan diriku, aku menghianati suamiku dan keluargaku tapi hati kecilku meras senang dengan kejadian ini. Setelah kejadian ini aku merasa bersalah dengan keluargaku, aku mencoba untuk memperbaiki sikapku. Tapi setiap malam aku merasa kangen dengan Teguh. Bahkan saat berhubungan dengan suamiku aku membayangkan dengan Teguh yg sangat lihai membuat aku mudah terangsang.

Aku dan Teguh pun memanfaatkan hari kamis dimana aku libur kerja dan dia piket malam hari. Sampai saat ini aku dan Teguh masih berhubungan, sesekali kami sexs phone, atau sexs sms. Aku memang ibu yg tak tahu diuntung dan kurang bersyukur dengan kebahagiaanku saat ini.

***

Cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex,
cewek igo, seks igo berjudul “Cerita Dewasa Ibu Rumah Tangga Kesepian”
hot terbaru 2016

resizedimage-php-bresize resizedimage-php-banner-1