Obat Pembesar Penis obat pembesar penis
musimqq-920x120
Pembesar  Penis Vimax
vimax-asli-canada
ezgif-com-add-text
Poker Online Terbesar di Indonesia Agen Poker Online Terbaik resizedimage-php-jayabet resizedimage-php online online online
Home » Cerita Dewasa ABG » Cerita Dewasa Kamar Mesum 595

Cerita Dewasa Kamar Mesum 595

resizedimage-php-elang resizedimage-php-obat

Seksigo kali ini menghadirkan cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, cewek igo, seks igo berjudul “Cerita Dewasa Kamar Mesum 595” hot terbaru 2016 – Baca juga: Cerita Dewasa Adikku Montok

cerita sex abg

Cerita Dewasa Kamar Mesum 595

“Temui aku di Hotel H kamar 315, tapi sebelumnya telfon dulu ya Dik Radit, siapa tahu Mbak Mirna sedang keluar sebentar..” begitulah pembicaraan yg singkat yg maknanya dapat aku pahami dengan cepat.

Oh ya, Mbak Mirna sudah mengenalku kurang lebih setengah tahun, tapi selama setengah tahun tersebut, kami hanya sebatas berteman, karena perbedaan tempat yg cukup jauh, aku di kota S sedang Mbak Mirna di kota J.

Dia mengenalku dari Mbak lina, ya semoga pembaca masih ingat dengan kisahku di “Gelora Di Kolam Renang”. Tapi aku tidak tahu apa hubungan antara Mbak Lina dengan Mbak Mirna, menurut Mbak Lina sih hanya teman dari “milist groups” (aku lupa namanya), di situ Mbak Lina cerita tentang hubunganku dengannya. Dan Mbak Mirna minta bagaimana agar bisa dikenalkan denganku.

Cerita Sex Terbaru | Singkatnya, pertemanan setengah tahun berjalan sebatas kirim e-mail dan telepon, tapi tentu saja dia yg telepon duluan. Mbak Mirna adalah janda beranak 2, dia bekerja di bidang Public Service sebuah perusahaan finance di kota J, tidak jelas bagaimana ia menjanda, yg pasti mantan suaminya orang melayu. Dari yg kubayangkan selama ini lewat pembicaraan telepon, fisiknya sedang-sedang saja, hanya suaranya, ya.. suaranya yg aku ingat selalu, berat dan serak, mungkin karena dia perokok berat.

Berbekal uang recehan, aku datang ke hotel H, dan melalui public phone, aku telepon ke kamar 315. Cukup lama nada dering telepon aku dengar dan tidak ada yg mengangkat, tiba-tiba.

“Halo..” lho kok suara laki-laki? pikirku.
“Maaf Mbak Mirna ada?”
“Sebentar, dari siapa ini?”
“Radit, saya sudah janji untuk bertemu sore ini,”
“Tante, ada orang namanya Radit, katanya mau ketemu..”

Terdengar suara mengeras memanggil nama Mirna. Tante? Siapakah gerangan laki-laki ini?

“Ya Dik Radit, aduh maaf Tante masih terima Hand Phone dari teman di J, langsung aja deh naik.”

Begitu pintu terbuka, aku kaget, ternyata bayanganku tentang Mbak Mirna meleset seratus persen! Umurnya 37 tahun, sedang aku saat itu masih 25 tahun, kulitnya coklat, tidak cantik, cenderung gemuk tinggi tubuhnya yg 160 cm dengan berat 75 kg.

“Wah maaf ya, kenalin ini saudara Mbak di S, namanya Andi, dia anak dari kakak Mbak yg paling tua, kebetulan sedang kuliah di sini ambil jurusan.. apa Di?”
“Manajemen,” jawab Andi singkat sambil berjabat tangan formal sekali.
“Semester berapa kamu Di?”
“Baru semester dua kok Tante.”
“Oh ya ini Radit, dia yg membantu Tante urusan kantor di S,” jawabnya menutup-nutupi yg sebenarnya, dan aku mendukung apa yg dikatakannya.
“OK deh Tante, karena sudah ada Mas Radit, Andi permisi dulu, besok keretanya jam berapa sih, biar Andi antar sama mama sekalian,” tawaran Andi dijawab singkat Mbak Mirna.
“Ah, nanti aku telepon Mbak Ning deh, sekalian besok minta dijemput main ke rumahmu, salam buat mama dan papa ya, sampai ketemu besok.”

Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam,

“Sampai dimana tadi Radit.. oh ya, selamat berjumpa deh dengan Mbak Mirna? Bagaimana menurut Dik Radit? Mbak Mirna gemuk ya? Hayoo jujur saja, nggak perlu bohong?”
“Iya, untuk ukuran Mbak Mirna memang tergolong gemuk, tapi nggak apa kok, lagian kami sudah akrab kan setengah tahun ini,” aku mencoba mencairkan suasana.

Mbak Mirna menyulut sebatang rokok Mild dan menawariku,

“Terima kasih, aku lebih suka Dji Sam Soe Filter,” sambil ikut merokok kepunyaanku sendiri.
“OK, sengaja aku tidak cerita fisik Tante, takut kalau Dik Radit nggak mau ketemu.”
“Ah Mbak Mirna salah mengira aku, aku tidak melihat wanita dari fisiknya kok, gemuk, kurus, cantik atau tidak, China atau Pribumi, pendek atau tinggi, yg penting ‘permainan’-nya.”

Tiba-tiba aku langsung nyerocos.

“Lagi pula, aku juga tidak tampan dan bertubuh atletik kan? aku hanya laki-laki biasa yg beruntung bisa menemani beberapa wanita yg maaf lho Tante.. seperti.. Mbak Mirna ini.”

Tiba-tiba, belum selesai rokok satu batang, Mbak Mirna langsung merangkulku dan melumat bibirku. Didekapnya tubuhku, dan terasa sesak nafasku karena tubuhnya yg gemuk langsung menindihku di tempat tidur.

“Dik Radit, sudah sembilan bulan ini Mbak Mirna belum merasakan sentuhan laki-laki, tolong Mbak Mirna ya.. oohhkk,” suaranya yg berat dan serak memecahkan kesadaranku untuk ikut melayani permainannya.

Bayangan tubuhnya yg gemuk sudah hilang dari pikiranku, karena untuk pertama kali ini, aku menemui wanita yg berani langsung tanpa pemanasan. Dan ciumannya aku akui sangat panas (mungkin karena sembilan bulan puasa). Belum selesai permainan pertama, Mbak Mirna sudah mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Dan hebatnya, sambil melepas pakaian, tangannya yg satu tidak berhenti meraba kemaluanku yg masih rapat tertutup celana. Aku sudah tegang sejak ia mempermaikan kemaluanku.

“Ookkhh, Radit, tunjukkan dong sama Mbak, kemaluan kamu, sudah tegang tuh.. okkhh yeess,”

Tidak sampai satu menit, kami berdua sudah polos. Tubuh yg gemuk itu, berukuran payudara sedang-sedang saja, tetapi rambut kemaluannya jelas terawat sekali, panjang, lebat tetapi lurus, dan sudah basah karena terangsang. Batang kemaluanku langsung saja dituntun ke mulutnya, dan hisapannya..

“Aaauu, pelan-pelan Mbak, sakiit!” rupanya Mbak Mirna terlalu terburu-buru. Kubimbing dia untuk bermain pelan-pelan.
“Terus Mbak! yaa, teerruss, ohh, pelan Mbak, ohh terus, nah begitu,” sambil mukanya maju-mundur, burungku terus dijilati seperti es krim.

Tidak perlu lama-lama menunggu, aku mulai ikut mempermainkan bibir kemaluannya. Karena sudah basah, aku tidak perlu kerja keras untuk mengajaknya memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya.

Dan rupanya Mbak Mirna masih ingin mengulum batang kemaluanku, walaupun sudah amat sangat keras dan tegang, apa boleh buat, aku hanya bisa menunggu giliran untuk menusuk lubang kemaluan yg sudah sangat basah itu.

“Ohhk my God, Mmmbakk,” suaraku bergetar, karena sudah ingin memuntahkan sperma.

10 hanya mengulum saja, segera kupercepat gerakan, dan agak tersedak Mbak Mirna semakin liar menghisap kemaluanku. Dan aku mengeluarkan sperma di mulut Mbak Mirna, tidak banyak, tapi cukup untuk memuaskan nafsuku yg pertama.

Aku klimaks hanya dengan oral seks saja, dan Mbak Mirna masih mengulum habis sekalian membersihkan sisa sperma di kemaluanku. Dan lima menit kemudian, burungku sudah mulai bereaksi kembali. Kali ini Mbak Mirna semakin bernafsu, dan belum tegang benar, aku sudah dikangkanginya, posisiku di bawah, dan Mbak Mirna di atasku. Wah, aku hampir sulit bernafas, sepertinya (sialan) kali ini aku benar-benar habis dikuasai permainan Mbak Mirna.

Dengan dibimbing tangan kiri Mbak Mirna, burungku digenggam dan diarahkan ke lubang kemaluannya. Mmhh.. hangat terasa dan diikuti suara gesekan kemaluan dan dinding kemaluan sebelah dalam. Mbak Mirna mulai bergerak naik-turun, dan aku pasif saja menyaksikan apa yg sedang dikerjakan.

“Oh ya.. ohhkk yaa, uuchh,” Mbak Mirna sangat aktif sekali, gerakannya semakin tidak teratur, kini mulai bergerak maju-mundur, dan kadang-kadang menghentak, dan setengah melompat, seolah-olah ingin menancapkan burungku dalam-dalam ke lubang kemaluannya yg sudah sangat licin.
“Dik Radit adduhh, gimana ini, oohh sshitt, aauuww, ohhkk,” entah teriakan apa lagi yg kudengar, Mbak Mirna semakin buas memainkan pinggulnya, tetapi sangat berirama dengan keluar-masuknya batang kemaluanku ke lubang kemaluan Mbak Mirna.

Tiba-tiba Mbak Mirna berputar membelakangiku dengan posisi masih di atas, dan batang kemaluanku tertancap di lubang kemaluannya, Mbak Mirna bertumpu dengan kedua kakinya dengan posisi jongkok kembali menaik-turunkan tubuhnya, ohhkk, sangat aktif sekali. Kini aku hanya melihat bagian pantatnya saja, sambil sesekali melihat gerakan kemaluanku yg sudah basah dilumuri cairan dinding kemaluan Mbak Mirna tampak keluar-masuk di lubang yg nikmat sekali.

“Oocchh, please.. huuhh.. hhuhh.. oohh ohh,” gerakannya makin cepat, dan kini jelas sangat tidak beraturan.

Kasur seperti bergerak dihantam gelombang oleh permainan Mbak Mirna sedang aku hanya rebahan menikmati permainannya. Dan tiba-tiba, dia memperlambat gerakannya dengan hujaman ke bawah yg sangat keras, dengan demikian burungku menusuk sangat dalam ke mulut kemaluannya.

“Aauuhh,” sedikit sakit karena dipaksa.

Semakin lambat gerakan Mbak Mirna, tetapi suaranya makin kencang (semoga tidak terdengar sampai keluar).

“Yeess.. yess.. yeess.. uuhh, aakkhh, aakhh, oohh, oh.. oh.. oh.. ohh.. yees, ouucchh.. oouucch, please, pleease.. pleeassee, aaoucchh, shhitt!” Hening, dalam sekali batang kemaluanku menusuk ke lubang kemaluan Mbak Mirna, dan dibiarkan tetap di dalam, sementara Mbak Mirna menggeliat, seolah ada gerakan otomatis di dinding kemaluannya yg mengurut-urut batang kemaluanku dengan gerakan menjepit dan melebar, menjepit kembali dan tiba-tiba hangat terasa, seperti ada cairan tambahan.

Ya, aku sampai pada puncak klimaksku, ketika dalam diam tersebut, ada gerakan otomatis dari dinding kemaluan Mbak Mirna, seolah-olah meremas kemaluanku dengan sangat teratur dan diselingi desiran cairan kental yg membuat licin, sehingga batang kemaluanku terasa berdenyut-denyut dipompa oleh dinding kemaluan Mbak Mirna. Dan kejadian yg singkat ini berlangsung kurang dari setengah jam, adalah permainanku yg terakhir di kota S. Sekarang aku sudah di J, sekota dengan Mbak Mirna. Tetapi sejak di kota J ini, justru aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Mbak Mirna.

Sejak kejadian yg pertama dengan Mbak Mirna, kami masih sempat bercinta 3 kali di kemudian hari, dan seperti permainan kami yg pertama, aku hanya diam saja menyaksikan permainan Mbak Mirna yg agresif dan kutunggu sesuatu yg istimewa, gerakan dinding kemaluannya, yg belum pernah kutemui dengan wanita yg lain.

***

Cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, cewek igo, seks igo berjudul “Cerita Dewasa Kamar Mesum 595” hot terbaru 2016

resizedimage-php-bresize resizedimage-php-banner-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*