Obat Pembesar Penis
musimqq-920x120
ezgif-com-add-text
Poker Online Terbesar di Indonesia Agen Poker Online Terbaik
Home » Cerita Tukar Pasangan » Cerita Sex Berbagi Suami

Cerita Sex Berbagi Suami

resizedimage-php-elang resizedimage-php-obat

Seksigo kali ini menghadirkan cerita sex, cerita dewasa, kisah sex nyata, kisah sex tante, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, cewek igo, seks igo berjudul “Cerita Sex Berbagi Suami” terbaru 2016 – Di ulang tahun perkawinan ke 3 , kami kembali ke hotel itu. Tempat dimana kami melewatkan bulan madu di masa-masa awal pernikahan. Memang bukan hotel yg terbaik, namun jaraknya begitu dekat dgn pantai. Itu yg kami cari, dan yg kami sukai. Setelah mengurus segala sesuatunya di resepsionis, bergandgn tangan kami pergi menuju ke kamar.

sex tukar pasanganCerita Sex Berbagi Suami

Tp begitu kagetnya saat di dalam kami melihat masih ada sebuah tas di samping lemari, jg pakaian yg tergeletak sembarangan di sekitar ranjang.-cerita sex terbaru- Ditambah suara seseorang yg sedang memakai sedsang mandi, makin lengkaplah kebingungan kami. Harusnya kan kamar ini kosong!

Cerita dewasa terbaru, Siapapun orang yg ada di kamar mandi mengetahui kedatangan kami, ia lekas menghentikan kegiatannya dan melongok keluar. Seorang pria muda, seusiaku.

”Bisa aku bantu?” tanyanya dgn busa sabun masih menempel di mukanya, bisa kulihat tubuhnya yg telanjang dari balik kaca kamar mandi yg buram.

Cerita mesum terbaru, Wajahku kontan memerah, apalagi di belakangnya ternyata jg ada orang lain, wanita, mungkin istrinya. Maka lekas kupalingkan muka.

”Emmmm, begini…” suamiku mulai menjelaskan.
”kami diberi kunci kamar ini, kami kira kosong, tak tahunya…”
”Mungkin ada kesalahan.” kata PRIA itu sambil tersenyum.
”Iya, sepertinya begitu.” sahut suamiku.
”Maaf, kami sangat menyesal.” tambahnya.

Pria itu memperkenalkan diri, namanya Yogi,

”Tdk apa-apa, anda bisa bertanya ke resepsionis.” ia berkata ramah.
”Oke,” suamiku menuruti usul itu.
”Namaku Bryan,” kata suamiku begitu selesai menelepon.
”Apa kata resepsionis?” tanyaku tak sabar, jengah dgn keadaan yg aneh ini.
”Semua kamar penuh. Di hotel lain mungkin jg sama, karena ini memang musim liburan. Kalau sedikit ke luar kota mungkin bisa, sekitar 25 kilo dari sini.” kata suamiku menjelaskan.

Bahuku merosot, itu tdk mungkin. Mencari kamar di peak season seperti ini, di jam segini, sama saja dgn mencari jarum di tumpukan jerami.

Yogi yg kini sdh mengenakan handuk, menatap kami dgn penuh rasa iba.

”Maaf, kalau boleh aku tau, kalian sedang liburan atau apa?” tanyanya.
”Ah, tdk. Kami hanya ingin bernostalgia, sambil refreshing jg.” jawab suamiku.
”Sekarang ulang tahun pernikahan kami, di kamar inilah kami dulu melewatkan bulan madu.” aku menambahkan.

Yogi mengangguk penuh pengertian,

”Kalau begitu, kalian memang harus menginap di kamar ini. Ulang tahun perkawinan bukan sesuatu yg bisa dilewatkan begitu saja.” katanya sambil menatap tubuhku, seperti menilai dan mempelajarinya.

Aku yakin dia memberi nilai sembilan, atau kalau tdk, delapan. Wajar saja, karena aku memang sangat cantik dan seksi.

”Tp, sdh ada kamu disini.” kata suamiku, sama sekali tdk merasa keberatan.

Sdh biasa bagi dia melihat diriku ditatap oleh lelaki seperti itu.

”Ah, itu bisa diatur.” Yogi tersenyum samar, memberiku sebuah seringaian aneh, sebelum kemudian berkata,
”kamar ini begitu besar, jg ranjangnya dobel. Kenapa tdk kita bagi dua saja?” tawarnya kemudian.

Suamiku tertawa.

“Mana bisa begitu?” tanyanya heran.
”Bisa saja.” sahut Yogi.
“Dengar, kami sebentar lagi akan pergi makan malam. Beri kami waktu lima belas menit untuk berganti pakaian, selanjutnya untuk tiga jam ke depan, kamar ini jadi milik kalian. Bagaimana? Daripada kalian mengemudi malam-malam begini mencari hotel lain.” bujuknya.

Aku lihat suamiku. Dia tampak sedikit terkejut, tp jg kelihatan tertarik. Apalagi saat melihat Ratih, istri Yogi -yg melongok malu-malu dari balik bahu suaminya yg ternyata sangat-sangat cantik dan seksi. Terus terang aku sedikit cemburu karena merasa tersaingi.

”Ehm, entahlah…” sahut suamiku, sungkan kalau harus mengiyakannya langsung.

”Sebagai imbalan, kita berbagi tarif kamar; 50-50. Adil bukan? Kami akan merasa senang sekali kalau kalian mau menerimanya, setdknya kami bisa menghemat.” kata Yogi.

Ratih yg berdiri di belakangnya ikut mengangguk setuju.

”Sebentar, kurundingkan dulu dgn istriku.” kata suamiku sambil mengajakku bicara, sementara Yogi dgn diikuti Ratih keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk berganti pakaian.

Sedikit gambaran tentang Yogi, ia lelaki muda tampan yg memiliki senyum menawan dan tampak asli. Tubuhnya lumayan tinggi, dgn rambut hitam lurus terpangkas pendek dan mata bulat yg selalu tampak melebar. Sementara Ratih sama sepertiku, sama-sama cantik dan seksi, dan selalu bisa menarik perhatian setiap lelaki untuk menyetubuhi. Tak terkecuali suamiku, selama pembicaraan tadi, kuperhatikan kalau dia selalu melirik Ratih.

Dgn berbagai pertimbangan, kami akhirnya memutuskan akan menerima tawaran itu. ”Terima kasih,” kata suamiku sambil menjabat tangan Yogi.

”Sama-sama,” balas Yogi. Saat suamiku tdk melihat, ia melemparkan seringaian aneh kepadaku, sama seperti tadi. Kubalas perbuatannya dgn kaku.

Suamiku sendiri, dgn sedikit agak tdk sabar, menjabat jg tangan lentik Ratih. Lama ia tdk melepasnya, seperti sengaja meresapi kehalusan dan kehangatannya, sambil matanya melirik belahan payudara Ratih yg mengintip malu-malu dari balik gaun malamnya.

Kusentil tangan itu, suamiku segera melepaskannya.

”Eh, m-maaf.” katanya kepadaku, dan jg kepada Ratih. Kami sama-sama tersenyum.

Sebelum pergi, Yogi sempat berkata,

”Selamat menikmati, semoga malam kalian menyenangkan!”

”Terima-kasih, semoga kalian jg.” balas suamiku, matanya tak berkedip menatap goyangan pinggul Ratih yg begitu seksi dan ketat saat pasangan muda itu melangkah pergi.
”Awas tuh matanya copot!” kataku sambil mulai membongkar kopor.

Suamiku tertawa, dan lekas mengunci pintu kamar.

”Aku mau mandi dulu, gerah nih.” katanya.

Kubiarkan dia pergi ke kamar mandi, sementara aku mulai menata pakaian di dalam almari. Beberapa makanan dan cemilan yg kami bawa dari rumah, kutaruh di atas meja. Di rak sebelah, kutemukan tumpukan baju dalam Ratih, kucoba untuk mengintip dan melihatnya. Semuanya seksi-seksi dan begitu mini. Aku tdk dapat membayangkan kalau disuruh untuk mengenakannya, rasanya aku tdk akan sanggup. Kubayangkan Ratih yg pergi makan malam dgn pakaian seperti itu, hmm pasti akan terasa ’dingin’ sekali.

Tdk lama, suamiku keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum saat melihatku yg menimang-nimang beha Ratih. ”Besar mana sama punya mama?” tanyanya dgn tersenyum.

”Sama kayaknya,” sahutku. Tp lebih kencang punya Ratih, dia kan belum pernah melahirkan! tambahku dalam hati.

Suamiku memberi sebuah ciuman mesra di pipi. Ia membelai sebentar gundukan payudaraku sebelum menyuruhku untuk lekas mandi tak lama kemudian.

”Ah, lagi dong! Enak nih!” rintihku. Tp suamiku tetap melepaskan pegangan tangannya.
”Mandi dulu, Ma, biar lebih segar.” ia berbisik.

Aku pun akhirnya mengalah. Cepat kusambar handuk yg ia berikan, sekilas kulirik tubuh suamiku yg telanjang di depan hidungku; air menetes-netes di perutnya yg tampak semakin gendut, sementara di bawah, kulihat k0ntolnya sdh mulai sedikit ngaceng, membuatku jadi tak sabar ingin lekas merasakannya.

Maka segera, setelah memberinya ciuman sekilas, aku bergerak cepat menuju kamar mandi. Jam sdh menunjukkan pukul 7.40 malam, berarti kurang dari 2 jam lagi Yogi dan Ratih akan segera kembali. Aku harus benar-benar memanfaatkan kesempatan yg sempit ini.

Lekas kubasuh tubuh mulusku, kusabuni bagian-bagian yg sering dicumbu oleh suamiku; yaitu dada dan selangkanganku, disanalah dia paling banyak menggunakan lidahnya. Yg lainnya tdk begitu kuhiraukan karena tubuhku memang selalu bersih dan wangi. Lalu setelah gosok gigi, kukenakan handuk tanpa mengenakan apa-apa lagi di dalamnya; aku keluar dgn tubuh telanjang!

Suamiku tersenyum saat melihatku, tahu kalau inilah saat yg kami tunggu-tunggu. Disini, tdk ada anak yg akan mengganggu keintiman kami. Berdua kami bebas, kembali ke masa awal-awal pernikahan dulu. Masa-masa yg begitu indah karena kami bebas melakukan apa saja, kapanpun dan dimanapun.

”Kamu cantik sekali, sayang!” kata suamiku sambil memeluk dan mencium bibirku.

Tanpa berkata apa-apa lagi, kami langsung saling melumat dan bercumbu mesra. Bisa kurasakan k0ntolnya yg sdh mengeras mengganjal telak di perutku. Segera kubuka celana pendek yg ia kenakan hingga benda itupun langsung terlontar keluar, hinggap di atas telapak tanganku dgn begitu kerasnya.

Suamiku membelai rambutku penuh rasa sayang, ia jg menarik handukku hingga terlepas. Maka jadilah aku tergolek pasrah di depannya dgn tubuh telanjang bulat. Suamiku memulai permainan dari atas ke bawah.

”Pah, geli, Pah.. aughh,” rintihku sewaktu jari-jari tangan suami mulai menyibak belahan kemaluanku.

”Tahan dikit, Sayang!” rayunya sambil terus menyibak dan terus mengelus-elus bibir bawahku dgn begitu lembut. Seperti biasa, ia membukanya lebar-lebar, memperhatikan bagian dalamnya yg kelihatan memerah sejenak, sambil dua jarinya memainkan biji klitorisku yg sdh menyembul kencang, sebelum akhirnya mulai mencium dan menghisapnya dgn begitu rakus.

”Auw! Arghh…” kontan aku menjerit, pinggulku bergerak memutar, bukan karena sakit, namun karena nikmat.

Seperti mengerti dgn jeritan itu, sedotan dan gigitan mulut suamiku semakin kencang terasa. Lidahnya jg menusuk semakin dalam, sambil dua jarinya terus memilin dan memainkan tonjolan klitorisku. Diserang terus seperti itu, betapapun aku ingin melawan, tubuhku akhirnya tak kuasa jg. Aku mulai menggelinjang, tubuhku kelojotan, sementara tanganku menjambak rambutnya agar dia semakin kencang merangsang nafsuku.

”Su..sdh, Pah.. sdh!” jeritku saat sdh tak tahan dgn gelitikan lidahnya di daerah sensitifku.

Tp ia terus saja memainkan lidahnya, malah terkesan semakin liar. Aku jadi makin kelojotan dibuatnya, rintihan dan jeritanku jg terdengar semakin keras. Apalagi sambil menjilat, tangan suamiku jg terjulur untuk memegang dan meremas-remas tonjolan payudaraku yg tumbuh semakin besar setelah aku melahirkan anak pertama –padahal dulu sdh besar, apalagi sekarang! Karena itulah ia jadi suka memegang dan meremasinya.

”Sdh, Pah… sdh!” aku kembali meminta, namun lidahnya terus saja bergerak naik turun membelai belahan kemaluanku. Tdk ingin dipermainkan lebih lama, lekas kucari batang k0ntolnya yg sdh ngaceng keras, lalu kuremas dan kukocok-kocok benda itu hingga ujungnya yg tumpul mengeluarkan cairan mengkilat.

Akhirnya kami jadi sama-sama tak tahan. Saat aku meminta untuk yg ketiga kalinya, kali ini dgn senang hati suamiku mengabulkannya. Ia pindahkan posisi tubuhku. Kini aku berbaring melintang di atas ranjang dgn pantat setengah menggantung, kakiku terjulur ke bawah. Lalu ia mengangkat kedua kakiku, membukanya lebar-lebar, dan menaikkan keduanya ke atas pundak. Dgn begitu, lubang kemaluanku yg sdh merekah basah bisa terekspos dgn jelas di depan batang k0ntolnya, siap untuk menampung dan membahagiakannya.

”Ahh…” aku mendesis pasrah dgn mata setengah terpejam. Mulutku terbuka, sementara tangan aku taruh di atas kepala. Dgn dada berdebar kutunggu saat k0ntol suamiku mulai menerobos liang memekku.

Namun dia tdk langsung melakukannya. Suamiku hanya menggesek-gesekkannya saja sambil mulutnya mulai mencium dan menjilati putingku. Ia menghisapnya dgn begitu rakus sambil bagian bawah tubuhnya terus mendesak-desak, menggesek bibir memekku dgn ujung k0ntolnya.

”Uuuhhhhh…” aku jadi tak tahan. Aku yg sdh merasa sangat gatal, lekas memegangi pinggulnya.

Saat k0ntolnya tepat berada di depan pintu surgaku, segera kutarik pinggulnya kuat-kuat. Tanpa bisa dicegah lagi, k0ntolnya yg besar itupun langsung meluncur masuk, membelah lubang kemaluanku, mengisinya begitu penuh hingga jadi terasa geli dan sangat nikmat.

”Aahhhhh…” aku menghela nafas lega, apa yg kuinginkan akhirnya tercapai jg.

Namun itu masih setengah jalan; k0ntol itu hanya mengisi, tp masih belum bergerak. Baru saat Suamiku mulai menggoyang tubuhnya, itulah dimana aku mendapatkan nikmat persetubuhan yg sesungguhnya.

”Goyang, Pah… cepat!” rengekku tak sabar sambil mulai menggerakkan pinggul.Gesekan alat kelamin kami, meski cuma sedikit, sdh cukup membuatku merintih nikmat.

Suamiku tersenyum saat melihat ulahku.

”Tdk sabar amat sih!” godanya sambil kembali meremas dan memijit-mijit tonjolan buah dadaku, putingnya yg mungil ia pilin-pilin ringan secara bergantian.
”Ahaahhhh…” aku tak sanggup untuk membuka suara, karena sambil terus meremas, ia jg mulai menggerakkan pinggulnya.

Dgn menarik tubuhku agak sedikit ke bawah, suamiku mulai menusukkan batang k0ntolnya maju-mundur, menggesek dinding-dinding rahimku yg sdh sangat rindu akan sentuhan, dan mengaduk-aduk bagian dalam liang senggamaku hingga jadi begitu basah dan lembab.

Tusuk-tusukannya terasa sedikit agak kasar, tp tak apa, aku menyukainya. Malah sebenarnya, itu yg aku cari. Entah kenapa, malam ini aku ingin bermain sedikit lebih liar, lain dari yg biasa kami lakukan kalau di rumah.

Suamiku yg rupanya mengerti apa yg aku inginkan, tanpa memberiku kesempatan untuk menarik nafas, terus menggenjotkan k0ntolnya. Dgn posisi miring saling membelakangi, lubangku jadi terasa semakin sempit, menjadikannya lebih legit dan lebih enak. Apalagi kalau sdh terangsang seperti ini, tonjolan buah dadaku jg membengkak semakin besar, membuat suamiku jadi makin gemas lagi mempermainkannya.

Sama-sama nikmat, kami jadi sama-sama tak tahan. Akhirnya, dgn diiringi sebuah jeritan pelan, kami mencapai klimak secara hampir bersama-sama. Suamiku menyembur lebih dulu, kemudian disusul olehku, hanya seilisih sepersekian detik. Selanjutnya, dgn sama-sama puas, kami saling berangkulan dan saling mencumbu untuk meredakan nafsu masing-masing.

Waktu menunjukkan pukul 10.10, ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Suamiku lekas mengenakan jubahnya, sementara aku hanya mengenakan pakaian tidur yg sangat tipis. Kuantar suamiku membuka pintu.

”Eh, maaf menganggu.” kata Yogi sambil matanya melirik kepadaku, lalu ke arah sprei tempat tidur yg sangat berantakan.

Ia kemudian tersenyum penuh arti. Aku hanya bisa bersemu malu saat menerima tatapannya. Ratih, istrinya yg cantik, bergelayut manja di pundaknya, sepertinya sedikit mabuk.

”Ah, tdk apa-apa.” segera suamiku mempersilahkan mereka untuk masuk.
”Justru kami yg harusnya meminta maaf karena sdh merepotkan kalian.” tambahku untuk mencairkan suasana. Kami berempat saling memandang dan saling tersenyum kikuk, lalu tertawa berderai secara bersama-sama.

Bergiliran kami pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian, selanjutnya bersama-sama kami merapikan tempat tidur. Kuperhatikan beberapa kali suamiku melirik bulatan payudara Ratih yg menggantung indah di balik baju tidurnya, begitu jg dgn yg dilakukan Yogi kepadaku. Anehnya, aku dan Ratih sama sekali tdk merasa keberatan dgn hal itu. Entah apa yg terjadi. Yg jelas, malam ini terasa lain. Aku merasa begitu bebas, jg begitu horny. Memekku terasa basah terus padahal sdh ditusuk oleh suamiku tadi. Dan sepertinya itu jg yg dirasakan oleh Yogi, Ratih dan suamiku.

Akibatnya, kami yg awalnya bercanda biasa-biasa saja, kini mulai menjurus ke arah seks. Yogi tanpa malu-malu melontarkan guyonan porno, sementara suamiku menanggapinya dgn tak kalah mesum. Aku dan Ratih sebagai istri, hanya bisa tertawa-tawa saja melihat ulah mereka berdua. Sampai akhirnya, Yogi melontarkan sebuah ide konyol tak lama kemudian.

“Aku punya ide, bagaimana kalau kita bermain strip poker?” usulnya sambil menyeringai, lalu berdiri untuk mengambil setumpuk kartu dari laci meja. Ratih tertawa kecil sebagai bentuk rasa persetujuannya.

Kupandang suamiku, ia mengangguk, mengiyakan ajakan Yogi. Meski masih bingung, aku jadi tak sanggup untuk membantah.

”Gimana aturannya?” akhirnya hanya itu yg bisa kukatakan.
”Aturan? Sederhana saja kok,” kata Yogi, ia duduk kembali di samping istrinya.
”kita hanya telanjang, tdk ada pertemuan kelamin, tdk ada penetrasi tanpa persetujuan dari semua orang, dan kita dapat mengatakan tdk kalau memang tdk ingin.” terangnya.

Entah kenapa, mendengar semua itu, memekku langsung bergetar keras, jantungku berdetak cepat, dan darahku serasa mengalir dua kali lebih deras. Oh, dasar tubuh doyan seks! umpatku dalam hati. Kupandang suamiku; pertama ke wajahnya, ia tdk memperhatikanku, malah ia asyik menatap tubuh mulus Ratih, seperti menilainya, sama seperti yg tengah dilakukan Yogi kepada tubuhku. Ohh, lagi-lagi aku mengeluh dalam hati. Laki-laki memang sama saja, tdk bisa melihat yg cantik-cantik dan bening-bening!

Kualihkan pandanganku ke bawah, ke arah celana suamiku; sdh ada tonjolan besar disana, begitu jg dgn celana Yogi. Rupanya kedua lelaki itu sdh mulai terangsang, padahal permainan belum jg dimulai. Diam-diam aku tertawa dalam hati. Ratih yg jg mengetahui hal itu ikut tertawa bersamaku. Maka begitulah, setelah kami semua mengangguk setuju, permainanpun dimulai.

Yogi mulai membagikan kartu. Di putaran pertama, suamiku yg menang. Sesuai peraturan, ia berhak menentukan siapa yg kehilangan apa.

Suamiku berkata kepada Ratih dan aku.

”Lepaskan baju atasan kalian!”

Ratih dgn santai membuka baju tidurnya. Di tubuhnya yg putih mulus tampak menggantung bra tembus pandang untuk menygga bongkahan payudaranya yg bulat besar. Suamiku langsung melongo saat melihatnya, tampak terpesona oleh puting Ratih yg bulat tegak berwarna coklat kemerahan. Begitu jg dgn Yogi, matanya tak berkedip saat melihatku mulai melepaskan baju. Karena tdk mengenakan beha, maka jadilah payudaraku yg seukuran melon 2 kilo langsung terlontar keluar. Semua orang bisa melihatnya dgn jelas. Ratih tampak membandingkan dgn punyanya, dan dia tersenyum saat melihat milikku sedikit lebih kendor. Ya iyalah, aku kan sdh pernah melahirkan, sedangkan ia belum.

”Sama-sama indah,” suamiku mencoba bersikap adil, padahal aku tahu kalau dia benar-benar terangsang saat melihat bulatan payudara Ratih.
”Iya,” dukung Yogi dgn mata terus melirik ke arah tonjolan buah dadaku, ia lalu mengajak untuk meneruskan permainan.

”Eh, tunggu dulu.” tp suamiku menolak, kami semua segera menoleh kepadanya.
”Yogi belum kuberi hukuman.” kata suamiku. Aku dan Ratih langsung mengangguk setuju, sementara Yogi hanya tertawa saja saat tertangkap basah.
”Iya, maaf.” kata Yogi sambil mulai melepas bajunya.

Tp suamiku cepat menahan,

”Eh, bukan itu.”

Yogi menoleh bingung, dan dia langsung tersenyum saat suamiku berkata,

”Maaf, teman, lepas celanamu!”

Yogi dgn senang hati melakukannya. Pelan ia melepas sabuk dan membuka ritsleting celananya. Ratih dan suamiku tertawa saat melihat Yogi ternyata mengenakan boxer di balik celana itu, sementara aku mendengus kecewa karena tdk jadi melihat batang besar yg sepertinya sdh ngaceng berat di balik kain itu.

”Sabar, sayang…” kata suamiku,
”doakan aku menang lagi, kujamin ia akan telanjang.” yakinnya. Aku ikut tersenyum.

Tp ternyata, di putaran kedua, Ratih yg menang.

”Yes! Yessss!” ia bersorak gembira, dan sambil memandang suamiku, ia berkata,
”Ayo, Bryan, lepas celanamu!”

Aku yg tahu kalau suamiku tdk mengenakan apa-apa lagi di balik celana boxer-nya, mulai berdebar-debar kencang. Aku tak tahan membayangkan kalau laki-laki yg sdh menikah dgnku selama 3 tahun ini akan telanjang di depan wanita lain. Tp ternyata, saat suamiku melepas celananya dan memamerkan k0ntolnya yg sdh menegak kencang di depan Ratih, aku tdk merasa cemburu sedikitpun. Yg ada, aku malah ikut terangsang!

Sama-sama melongo seperti Ratih, kuperhatikan k0ntol suamiku yg berkeringat. Benda itu terlihat begitu panjang dan ramping, ujungnya yg gundul sdh berwarna coklat kemerahan dgn cairan precum mulai membasahi lubangnya yg mungil. Sementara urat-urat halus yg selama ini selalu bisa membuaiku di saat kami bersetubuh, kulihat sdh bertebaran di sekujur batangnya, membuat k0ntol itu jadi terlihat begitu menarik, jg sangat menggairahkan. Suamiku tertawa bangga dgn kejantanannya itu.

”Ehm-hem!” kuingatkan Ratih yg masih nampak terpesona menatap batang k0ntol suamiku.

”Ah… eh, i-iya… iya…” ia tergagap-gagap. Kami semua tertawa melihatnya.

Ratih lalu berpaling kepadaku dan bertanya,

”Apa kau jg tdk mengenakan apa-apa lagi di balik celana tidurmu?”

Aku tersenyum dan menggeleng; tdk. Aku memang masih mengenakan celana dalam di balik celana tidurku.

”Emm, baiklah.” Ratih mengangguk, tampak berpikir sejenak, lalu berkata kepada semua orang,
”Saya akan menawarkan Angel pilihan. Dia bisa melepas celana atau dia dapat memberikan sebuah ciuman kepada kemaluan kalian.” Ratih menunjuk para suami, yg tentu saja disambut oleh Yogi dan suamiku dgn senyum lebar.
”Hanya sebuah ciuman.” tambahnya untuk menyemangatiku.

Aku bingung, ini pilihan yg sama-sama sulit. Kupandang suamiku, ia tersenyum dan mengangguk. Tanpa perlu aku untuk menjawab, Yogi dan suamiku segera berdiri dan melangkah pelan mendekatiku. Mereka menyodorkan selangkangan tepat di depanku; suamiku sdh telanjang, sementara Yogi masih memakai celana, tp tetap saja ujung k0ntolnya yg ngaceng berat sanggup menusuk hidungku. Mereka berdiri bersebelahan dan saling tersenyum.

Aku ikut tersenyum meski malu-malu. Kulirik Ratih, ia menganggukkan kepala untuk mendorong keputusanku. Pelan, akupun berlutut di kaki suamiku dan mulai menjilati porosnya. Kugerakkan lidahku ke atas hingga mencapai ujung k0ntolnya. Lalu kukecup precumnya yg berkilauan sambil kujilat perlahan sebelum kulepaskan tak lama kemudian.

”Hhh…” aku menghela nafas lega.

Selesai dgn suamiku, kini tiba giliran Yogi. Mulutku segera beralih ke selangkangan laki-laki itu. Pelan kujilat kemaluannya dari bawah, dari luar celana. Kucucup terus hingga naik ke atas dan sampai di sekitar ujungnya. Disana, aku jg bisa merasakan precum Yogi meski cuma sebagian.Kucucup perlahan dan kujilat sekali lagi sebelum kulepaskan sesaat kemudian.

Ratih bertepuk tangan saat aku selesai, begitu jg dgn Yogi, sementara suamiku cuma membelai rambutku mesra sebagai bentuk dukungan. Dia sama sekali tdk tahu kalau di bawah sana, jus memekku sdh mengalir deras membasahi liang kemaluanku. Aku terangsang berat!

Permainan kembali dilanjutkan, dan tebak siapa yg menang? Aku! Dgn seringaian penuh dendam, kukatakan pada Ratih,

”Pilih melepas beha atau celana?”

Ia memilih celana. Di balik kain itu, Ratih ternyata mengenakan daleman yg sama persis dgn behanya; sama-sama tembus pandang. Bisa kulihat kini putingnya sdh mengeras dan celana dalamnya begitu basah.

Untuk Yogi, tentu saja kusuruh ia untuk melepas boxer. Sekarang dia benar-benar telanjang, sama seperti suamiku. Kemaluannya yg menegak keras tampak berdiri kencang, bersaing dgn punya Bryann. Mereka saling melihat, seperti ingin membandingkannya. Tp bagiku, punya Yogi tetaplah lebih menarik. Meski batang suamiku lebih panjang dan besar, entah kenapa aku malah melirik terus ke arah selangkangan Yogi. Hal yg sama dilakukan oleh Ratih yg terus mencuri-curi pandang ke arah k0ntol Bryann. Mungkin sdh naluri manusia, tertarik pada barang orang lain.

”Sayang?” suamiku memanggil, meminta hukumannya.
”Ah, i-iya.” aku tersadar, cepat aku berpikir; tdk seru kalau kusuruh ia melepas baju, jadi yg paling baik adalah…
”Pergi ke Ratih, biarkan ia menjilat dan menghisap k0ntolmu sebentar.” kataku.

Ratih mendelik, sementara Yogi dan suamiku tertawa ringan.

”Hei, mau balas dendam ya?” tanya Ratih sambil mencibir, pura-pura marah.

Aku mengangguk mengiyakan, penuh kemenangan. Rasain! kataku dalam hati.

”Boleh?” tanya suamiku pada Yogi.
”Silahkan,” sahut Yogi santai.

Ratih tdk dapat membantah lagi. Dgn pasrah iapun membuka bibirnya, membiarkan k0ntol suamiku meluncur masuk menjelajahi rongga mulutnya. Aku dan Yogi menonton adegan itu tanpa suara. Ingin aku menyambar k0ntol Yogi dan ikut mengulumnya -yg aku yakin ia tdk akan mampu untuk menolaknya- namun aku masih ingin mengikuti aturan permainan. Jadi segera kuurungkan niatku itu.

Dua menit kemudian, suamiku mencabut k0ntolnya dan kamipun melanjutkan permainan. Berempat, nafas kami sdh sama-sama berat. Kuperhatikan k0ntol suamiku yg basah mengkilat oleh air liur Ratih, sementara Ratih sendiri berusaha membersihkan lelehan ludah yg membasahi bibirnya. Aku dan Yogi saling berpandangan dan saling tersenyum malu satu sama lain.

Di putaran berikutnya, Yogi yg menang. Aku jadi deg-degan dibuatnya, melihat senyumnya tadi, sepertinya hukuman kali ini akan sangat-sangat ’berat’. Dan benar saja, untuk yg pertama saja, ia sdh menyuruh suamiku agar melepaskan beha Ratih. Tp bukan cuma melepas biasa, ini harus dgn semesra mungkin.

”Anggap aja Ratih itu istrimu, Bryan!” kata Yogi menjelaskan.

Suamiku mengangguk mengerti, ia lekas menggeser tubuhnya ke belakang tempat duduk Ratih.

”Maaf ya, permisi sebentar.” bisiknya.

Ratih terlihat pasrah, ia diam saja saat perlahan suamiku membelai gundukan payudaranya. Bryan meremas dan memencetinya sebentar sebelum melepas kaitnya yg ada di belakang tak lama kemudian. Begitu beha itu jatuh ke bawah, terlihatlah buah dada Ratih yg berukuran besar, yg sungguh sangat bulat dan padat sekali. Sekarang benda itu berada dalam tangkupan tangan suamiku hingga aku dan Yogi tdk bisa melihat putingnya karena terhalang jari-jari tangan Bryan.

”Ahh…” Ratih mulai bergidik pelan saat suamiku terus meremas dan membelai gundukan payudara itu.

Mulutnya sedikit terbuka, sementara matanya terpejam dan erangan kecil terus keluar dari bibirnya yg tipis. Aku bisa melihat kalau celana dalam Ratih jg sdh benar-benar basah.

”O-oke, cukup!” kata Yogi mengagetkan. Suamiku kelihatan kecewa, begitu jg dgn Ratih yg kenikmatannya terputus. Tp memang hukuman harus kembali dilanjutkan. Puting Ratih terlihat sangat tegak saat suamiku melepas pegangan tangannya.

Untuk hukuman kedua, Yogi mengatakan kalau ia akan melepas celanaku dgn tangannya sendiri. Setelah apa yg dilakukan Bryann pada Ratih, aku jadi tdk bisa menolak permintaan itu. Maka jadilah aku duduk mengangkang menghadap Yogi, yg perlahan-lahan menyelipkan tangan dan menarik celana tidurku turun dari lingkaran pantat.

Sambil melepas, ia tentu saja memanfaatkan kesempatan itu untuk menyentuh ringan belahan memekku yg masih tertutup celana dalam. Tp karena memang sangat tipis dan jg sdh begitu basah, ia jadi seperti memegangnya secara langsung. Dgn mudah Yogi menjepit bibir memekku dan mengumpulkan jus kemaluanku di satu tempat, lalu diperasnya perlahan hingga aku menggelinjang ringan karena kegelian. Suamiku mengamati semua itu sambil meremas-remas kemaluannya sendiri, sementara di sebelahku, Ratih melakukan hal yg tdk jauh berbeda.

”Uhh…” aku menghela nafas lega saat masa hukuman itu berlalu. Permainan pun kami lanjutkan kembali.

Ratih memenangkan putaran kali ini. Dgn tertawa-tawa ia meminta kepada Yogi dan suamiku agar duduk di tempat tidur.

”Aku ingin mencicipi k0ntol kalian, masing-masing enam kali.” katanya sambil mulai mencium dan mengulumnya. Setelah enam kali jilatan, ia kemudian berhenti dan beralih kepadaku.
”Dan untukmu, Manis,” dia berkata.
”Buka memekmu lebar-lebar dan biarkan suami-suami kita menjilatinya.”

Akupun tdk dapat membantah. Segera kubuka kakiku dan kubiarkan Yogi dan suamiku menjilatinya bergantian. Yogi yg pertama mendapat giliran; dgn lincah lidahnya membelai lorong memek dan klitorisku. Saat benda itu sdh semakin basah, tiba giliran suamiku. Jilatannya yg begitu lezat hampir mengantarku menuju puncak kenikmatan. Tp untung Ratih lekas menghentikannya.

Terengah-engah penuh nafsu, kami berempat, dua pasang suami istri yg sdh sama-sama ingin dan horny, melanjutkan permainan.

Kali ini giliran suamiku yg menang. Ia menyuruh aku dan Ratih agar bersandar di tepi tempat tidur.

”Gi, kamu mainin payudara istrimu, sementara aku menghisap memek istriku. Setelah menit, nanti kita ganti posisi.” kata suamiku.

Yogi dgn senang hati melakukannya, dan kami… dgn senang hati menerimanya.

Yogi terlihat gemas dan penuh nafsu saat menggeraygi payuadara bulat milik Ratih, sementara suamiku dgn pintarnya menjilati klitorisku, menarik kembali gairahku yg tadi sempat terputus. Saat aku sdh hampir sampai, mereka berganti posisi; sekarang Yogi yg menjilati klitorisku, sementara Bryann menggarap gundukan payudara Ratih. Kulihat ia memilin dan menggelitik salah satu putingnya, sambil menjilati yg lainnya, sementara di bawah, hidung dan mulut Yogi terus berada dan bermain-main di lorong memekku. Aku tak tahan, gairahku meledak tak lama kemudian. Cairanku mengalir deras membasahi mulut Yogi. Ratih yg melihatnya jadi kepingin, iapun berniat untuk melepas celana dalamnya, tp suamiku lekas menghentikannya.

”Tetap pakai celanamu!” ia memerintahkan.

Aku yg lemas, jelas butuh istirahat. Yogi sepertinya tahu itu karena ia lekas menghentikan jilatannya. Hanya tangannya yg bergerak untuk memenceti gundukan payudaraku. Seharusnya itu tdk boleh karena itu tdk ada dalam perintah, tp aku terlalu lelah untuk mempermasalahkannya. Lagian, suamiku tampaknya jg tdk keberatan, jadi akupun diam. Malah kunikmati perlakuan Yogi itu untuk mengantar sisa-sisa orgasmeku yg masih sesekali melanda.

Bryan menyuruh Ratih untuk mengambil minum. Ratih menuangkan air dingin dari kulkas untuk kami berempat. Sambil meneguk, kami saling berpandangan, dan saling tersenyum penuh pengertian dgn situasi yg sangat aneh ini. Dari semua orang, hanya Ratih yg masih bisa disebut ’berpakaian’ meski celana dalamnya sekarang sdh melorot setengah paha, memperlihatkan sedikit area gelap yg tercukur rapi di selangkangannya. Sedang aku, Yogi dan suamiku sdh benar-benar telanjang bulat seperti bayi!

Aku berkata,

”Kita lanjutkan atau bagaimana?” tanyaku dgn nafas masih terengah-engah.

Kalau saja mereka mengajak untuk orgy sekarang, aku tdk akan menolak.

Tp Yogi sdh menyahut duluan.

”Tentu saja,” Ia melepaskan tubuhku dan kembali membagikan kartu. Kamipun kembali duduk melingkar, meneruskan permainan.

Tanpa disangka, aku yg menang. Segera kuminta Yogi dan suamiku untuk berdiri.

”Ratih, kita jilati punya mereka, tp kita tukar pasangan. Kamu mau?” tanyaku pada Ratih. Perempuan itu langsung mengangguk mengiyakan.

Aku mendatangi Yogi, sementara Ratih mendatangi suamiku. Perlahan-lahan kami mulai menjilati kemaluan mereka secara bersama-sama. K0ntol Yogi terasa membesar penuh di dalam mulutku, warnanya jadi berubah merah kecoklatan, pembuluh darah yg melingkar-lingkar di batangnya terlihat lebih jelas dari yg pernah kulihat. Yg kupikirkan sekarang adalah; betapa aku ingin kemaluan itu masuk ke dalam memekku, menyetubuhiku, memuaskanku. Tp otak di belakang kepalaku melarang, aku terus mendengar,

”Belum, belum. Tunggu saat yg tepat!”

Kulirik sebelah, sepertinya Ratih jg merasakan hal yg sama; sambil menjilat, ia jg meremas-remas payudaranya, bahkan tak jarang mengelus dan menusuk-nusuk lubang memeknya. Ia masturbasi!

Keadaan yg sama kulihat pada diri Yogi dan suamiku. Jilatan kami rupanya begitu nikmat hingga membuat mereka hampir orgasme. Kami semua begitu dekat, begitu nyata. Tp aku lekas menarik semua orang kembali ke dalam permainan.

Putaran berikutnya, Ratih menang. Tanpa bisa dicegah, iapun segera memintacoitus. Tp tentu saja dgn caranya sendiri.

”Ok, begini peraturannya…” Ratih mengambil empat jack dari tumpukan kartu dan mengocok mereka sebentar, lalu meletakkan kartu-kartu itu secara terbalik di tempat tidur.
”Jack Hitam berarti wanita akan disikat di pantat. Jack Merah berarti memek. Pria dan wanita dgn warna yg cocok bermain bersama selama 1 menit, dan kita akan terus mengulanginya sampai semua orang mendapatkan orgasmenya. ”
“Ok, apapun peraturannya, aku sdh siap sekarang. Sebagai pemilih pertama, aku mendapat warna hitam. Tdk apa-apa, karena aku jg suka anal seks. Yg jadi pertanyaan adalah; k0ntol siapa yg akan menembus pantatku?”

Suamiku menarik kartunya; warnanya hitam. Dialah yg menjadi partnerku. Aku sedikit kecewa karena sempat berharap Yogi lah yg akan menyetubuhiku. Tp tdk apalah, toh masih ada kesempatan kedua.

Yogi dan Ratih menatap tak berkedip saat Bryann bergeser untuk menempatkan diri di belakang tubuhku yg kini sdh menungging pasrah. K0ntolnya yg panjang dan besar perlahan-lahan meluncur ke dalam lubang pantatku. Kami mulai bercinta. Di sebelah, hanya berjarak sejengkal, kulihat Yogi mulai berbaring telentang di tempat tidur dgn Ratih duduk mengangkang di atas pangkuannya, dan perlahan, wanita itu bergerak naik turun saat k0ntol besar sang suami sdh menancap lembut di dalam liang kemaluannya. Kulihat suamiku menatap payudara Ratih yg bergoyang-goyang indah saat wanita mulai menggenjot tubuh sintalnya.

Satu menit berlalu begitu cepat. Suamiku segera menghentikan gerakannya, begitu jg dgn Ratih. Dari kami berempat, belum ada yg orgasme, maka kami pun memilih kartu lagi.

Kali ini Ratih dan suamiku menarik warna merah, sementara Yogi dan aku warna hitam. Aku tersenyum gembira. Lekas aku memposisikan diri, menungging seperti tadi. Lubang pantatku terasa penuh kembali, tp kali ini oleh k0ntol besar Yogi. Di sebelah, suamiku jg mulai menyetubuhi Ratih. Ia tindih tubuh perempuan cantik itu dan sambil meremas-remas gundukan payudara Ratih, ia genjot lorong memeknya yg hangat dan kencang.

Aku merasa sangat nikmat, tp aku tdk mungkin orgasme dari doggie style. Aku harus ditusuk di kemaluan kalau ingin menjemput rasa nikmat itu. Dan itulah yg dialami oleh Ratih, ditusuk dua kali di memek dalam waktu yg hampir bersamaan -meski dgn k0ntol yg berbeda- membuat dia melayg begitu cepat, dan akhirnya menjerit pelan tak lama kemudian. Wanita itu orgasme!

Begitu jg dgn Yogi; merasakan jepitan anusku yg begitu sempit dan ketat membuat dia mendengus-dengus liar. Bisa kurasakan ia mempercepat tusukannya di dalam pantatku, dan akhirnya meledak dgn kejang-kejang kecil saat cairan spermanya menyembur keluar, memenuhi lubang belakangku. Lemas keenakan, Yogi rebah di atas tubuhku. Ia memelukku begitu erat sambil menciumi pipi dan leherku, sementara tangannya melingkar di gundukan payudaraku yg menggantung indah dan meremas-remasnya pelan.

Di sebelah, suamiku menyusul tak alam kemudian. Ia menyemburkan spermanya yg kental di dalam lorong memek Ratih.

Sial! aku mengumpat dalam hati. Kenapa aku ditinggal? Tak tahukah mereka kalau nafsuku belum terpenuhi, dan memekku masih ingin lebih…

”A-aku masih belum!” aku berkata dgn suara keras, kepada siapa saja yg bisa mendengarnya.
”Tunggu sebentar,” sahut Ratih sambil bermain-main dgn kemaluan suamiku. Ia berusaha menjilat dan menghisapnya untuk kembali membangunkan benda itu.

Yogi ikut bergabung dgn meraba-raba lorong memekku. Dia mengusap klitorisku dgn lembut sambil membelai bibir memekku berkali-kali. Memang terasa nikmat, tp masih kurang. Melihat usahanya yg tdk begitu membawa hasil, Yogi ganti meletakkan mulutnya di atas gundukan memekku dan mulai menghisapnya rakus.

Di sisi lain tempat tidur, kulihat suamiku sdh keras lagi, Ratih berhasil membangunkannya. Hore!!!

Segera kutarik dia dan kuminta agar segera memasukiku. Rasanya seperti mendapat segelas air setelah berhari-hari kehausan saat k0ntol besar suamiku kembali bergerak keluar-masuk di lorong memekku. Yogi yg melihatnya, setelah mengecup pelan pipiku, pergi meninggalkanku; ia beralih kepada istrinya sendiri yg kini jg mulai kepingin lagi. Kini kami bermain dgn pasangan sah masing-masing.

Tak lama, akupun orgasme. Cairanku membanjir membasahi sprei kamar hotel. Di sebelah, Ratih jg mengerang keras saat menjemput orgasmenya yg kedua. Sementara Yogi dan suamiku, yg belum sama-sama keluar, bertukar pandang penuh arti. Dan seperti sdh bisa ditebak, mereka pun saling menukar pasangan; aku kembali disetubuhi oleh Yogi, sementara suamiku kembali menindih tubuh molek Ratih.

Jam sdh menunjukkan pukul 03.00 pagi saat kami mengakhiri permainan itu.Sdh tak terhitung berapa kali aku orgasme, begitu jg dgn Ratih. Yg bisa kuingat cuma Yogi yg menyemprot tiga kali di atas tubuhku; satu di anus dan dua di memek. Sementara suamiku, empat kali mengisi rahim Ratih dgn benih kehidupannya.

Kelelahan, kami tertidur pulas; entah siapa memeluk siapa. Yg jelas, kami sama-sama puas, dan mungkin akan mengulangi lagi saat bangun esok hari. Cerita sex, cerita dewasa, kisah sex nyata, kisah sex tante, cerita mesum, cerita ngentot, foto sex, cewek igo, seks igo berjudul “Cerita Sex Berbagi Suami” terbaru 2016

Save

One comment

  1. buat tante2 & cewe2 yg butuh partner utk having fun…telp aku di 085785604130, dijamin puas
    no homo/gay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*