Alat Bantu Sex Wanita
Balo Goal
Home » Cerita Dewasa Umum » Cerita Sex Hubungan Kerja

Cerita Sex Hubungan Kerja

Cerita Dewasa, Cerita Sex Hubungan Kerja – 1 Jam lebih Nina menunggu Roy. Sebelum akhirnya Roy tiba dan datang menemui Nina yg sedang duduk di kursi sofa, di lounge sebuah hotel berbintang di Jakarta. Mereka akan mendiskusikan masalah pekerjaan budget tahunan dari bagian Treasury yg harus dikerjakan Nina. Seperti diketahui, Roy yg berkebangsaan inggris adalah Treasury Head dan Nina adalah unit manager pada bagian Treasury sebuah cabang Bank Asih di Jakarta. Agar lebih santai mereka bersepakat untuk bertemu setelah jam kantor di hotel tersebut untuk mendiskusikan masalah budget tersebut.

Cerita Sex Hubungan KerjaCerita Sex Hubungan Kerja

Roy datang dengan penampilan yg menarik sore itu, membuat Nina agak terpesona. Roy mengenakan kemeja favoritnya. Roy tersenyum menyapa Nina, mereka berjabat tangan seperti umumnya dua orang profesional yg akan membicarakan masalah pekerjaan. Roy duduk di depan Nina, lalu setelah sedikit berbasa-basi, mereka membuka map masing-masing dan mulai membicarakan tentang pekerjaan.

Namun sepanjang pembicaraan, Nina sering memergoki mata Roy tdk selalu menatap kertas-kertas kerja mereka. Pandangan Roy sering mengarah ke tempat-tempat lain di tubuh Nina. (Sekedar info agar para pembaca mudah menghayati cerita sex ini, Nina memiliki tinggi 155cm, berat 49kg, bentuk badan slender, tdk serba mungil, rambut pendek seleher, dengan wajah blesteran Indo Jepang, Nina juga mengenakan kacamata minus). Sore itu Nina mengenakan blezer biru muda dan rok mini dengan warna yg sama. Di balik blezer itu, Nina mengenakan kaos ketat warna kuning, yg membuat kecerahan warna kulitnya lebih menonjol.

Nina sering memergoki pandangan Roy mengarah ke paha yg putih mulus itu. Kadang-kadang mata nakalnya itu juga sering terarah pada leher dan kaos Nina yg memang sedikit agak ketat, meskipun tertutup blazer. Pada satu saat, pandangan mata mereka bertemu. Nina mengerutkan dahi dan Roy malah tersenyum nakal.

“Kayaknya kita kurang serius membicarakan masalah ini ya? tanya Nina.
“Memang agak sulit dengan situasi seperti ini” jawab Roy sambil menatap dalam mata Nina.
“Terus meski gimana donk?” tanya Nina lagi.
“Kita teruskan besuk pagi aja ya, bukankah sekarang sudah di luar jam kerja?” jawab Roy santai.
“Oke, ide yg bagus, kalau gitu aku pamit pulang aja ya?” kata Nina sambil mengemasi kertas kerjanya.
“Tunggu dulu, atau mungkin bisa kita bicarakan sambil makan malam?” ajak Roy.
Nina sempat berpikir sejenak memikirkan apa yg ada di otak Roy waktu itu. Namun demi karirnya, Nina mencoba membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Roy bertanya sekali lagi pada Nina sambil mengangkat bahunya.
“Gimana Nina?” dia lantas tersenyum yg membuat hati terpikat.
“Okelah kaau begitu” jawab Nina agak berat setelah berpikir cukup lama.

Kemudian Roy mengajak Nina naik ke mobilnya. Mobil inventaris dari kantor yg dipakai sehari-hari oleh Roy. Nina menyukai interior dalam mobilnya benar-benar menggambarkan kepribadian Roy, kepribadian yg khas seorang pria asli dari Inggris. Nina tak henti-hentinya memandang setiap sudut dan mengagumi selera Roy. Sepanjang perjalanan mereka tak banyak bicara. Nina memandangi Roy yg sedang menyetir. Wajah, tubuh dan cara berpakaian Roy hingga otot-ototnya pun dia amati.”Hmmmm…sangat mengagumkan” gumam Nina. Dan upssshh!!! Nina buru-buru mengalihkan padangnya ketika Roy mengetahui Nina mencuri padang ke arahnya. Roy pun tersenyum nakal pada Nina, naluri kelakiannya mengetahui kalau Nina mengaguminya. Lalu Roy kembali meatap asal jalanan sambil tersenyum puas karena merasa menang.

Mereka tiba di sebuah hotel berbintang tiga yg terkenal dengan masakan yg enak di restorannya. Roy membukakan pintu untuk Nina. Entah sengaja atau tdk mereka bertabrakan sehingga buah dada Nina tersenggol oleh lengan Roy. Nina mencoba tetap santai setelah kejadian itu namun Roy tersenyum nakal. Seolah tahu kalau puting Nina langsung menegang karena tersentuh dengan lengannya tadi. Lalu keduanya berjalan masuk ke hotel.

“Oya Nina, kita makan di Cafe atau memeasan room service saja?” tanya Roy ketika mereka sampai di lobby hotel.

Nina menyukai cara pendekatan Roy padanya, tenang tapi terarah.

“Terserah kamu saja Roy…” jawab Nina singkat sambil melirik ke arah Roy dan mengedipkan matanya, tanda setuju dengan apa yg di pikirkan Roy. Lagi-lagi Roy tersenyum nakal pada Nina.

Kemudian Roy berjalan menuju meja resepsionis untuk check-in. Kamar yg mereka pesan berukuran sedang, tapi tetap mewah untuk hotel berbintang tiga. Di dalamnya ada ranjang berukuran king size tertata rapi menghadap ke set televisi. Dnding di belakang set televisi itu di lapisi oleh cermin lebar sepenuh tembok, sehingga ruangan itu terkesan lebih luas. Seacara reflek, Nina melirik ke cermin itu, merapikan rambutnya serta membetulkan kacamatanya dengan jari tengah. Roy merebahkan tubuh tegapnya ke tempat tidur dan mengamati Nina yg sedang bercermin

“Kamu mau pesan apa?” tanya Roy sambil mengangkat gagang telpong di meja kecil di samping tempat tidur.

“Apa kamu mau langsung mkan?” jawab Nina sambil masih bercermin.

Roy terdiam karena tdk mengharapkan reaksi Nina yg begitu direct. Nina membalikkan badannya dan menatap ke mata Roy. Dengan perlahan Nina membuka satu persatu kancing blazernya, sambil berjalan mendekati tempat tidur. Setelah semua kancing blazernya terbuka, Nina menaikkan lutut kirinya ke atas tempat tidur, dan menrunkan blazernya hingga kedua bahunya terlihat karena kaosnya yg ketat itu tanpa lengan. Mata Nina menatap Roy sambil sedikit menyipit.

Secara reflek, Roy pun mulai mebuka kancing kemejanya, sedikit demi sedikit menampakkan dadanya yg bidang menggairhkan. Lalu dengan cepat, Roy melepaskan kemejanya dan melemparkannya ke samping, lalu bangkit dan langsung memeluk tubuh Nina, dan menghujamkan ciuman-ciuman mesra ke leher Nina. Nina mengadahkan kepala menikmati ciuman Roy yg mesra dan bertubi-tubi itu. Roy melepas blazer Nina dan melemparkannya ke sudut ruangan, tangan Roy juga melepaskan kaos dari tubuh Nina yg mulai berkeringat. Lalu Roy menarik Nina hingga kini rebah terlentang di tempat tidur itu.

Nina sangat menyukai cara Roy itu, dan dia begitu menikmati. Nina hanya terlentang pasrah di tempat tidur itu. Menatap Roy yg kini sedang berdiri di dekat tempat tidur sambil memandangi tubuh Nina yg terlentang dengan hanya BH putih dan rok mini yg agak tersingkap ke atas.

Nina memandang Roy dengan setengah terpejam dan jari-jarinya bergerak kebibir Nina, merabanya, dan turun pelan-pelan ke leher, dada, mengait bagian leher kaosnya dan menariknya sedikit. Tangan Nina yg lain bergerak mengusap pinggangnya, bergerak ke tengah berhenti di bawah sabuknya. Roy segera bereaksi, naik ke atas tempat tidur dan mulutnya mulai menciumi wajah Nina. Tangan Nina bergerak untuk melepas kacamatanya, Roy menggerakkan hidungnya menelusuri telinga sebelah kiri Nina, menurun ke leher Nina.

“Oohhhh… aahhh… sshhhhh…” Nina kegelian hingga menggelinjang dan mengangkat bahu kirinya yg segera dijilati oleh Roy. Hangat dan lembabnya lidah Roy terasa begitu nikmat, membuat Nina kian pasrah saja.

Roy menarik tali BH Nina ke bawah agar lidahnya lebih leluasa menjilati pundak Nina yg mulus, bulu kuduk Nina berdiri semakin tegak merasakan itu semua. Roy semakin bergairah, kedua tanganya membuka kancing BH Nina yg ada di bagian depan. Dan terpampanglah kedua buah dada Nina yg tdk terlalu besar, namun padat kencang berwarna kuning cerah. Dipuncaknya terdapat dua tonjolan kecil merah jambu yg dikelilingi lingkaran coklat muda.

Sejenak Roy terdiam menyaksikannya. Nina hanya dapat menatapnya dengan tatapan meminta, menatap tegapnya tubuh Roy dan membayangkannya melekat, menyatu dengan tubuhnya. Dengan mata yg terfokus pada wajah Nina, kedua tangan Roy mulai bergerak menyentuh kedua buah dada Nina, meraba, mengelus dan meremasnya lembut. Nina makin meyipitkan matanya dan memandang mata Roy dengan memelas.

“Ooghh… oghhh” Nina merintih lirih.

Roy menanggapinya dengan cara meletakkan bibirnya melingkupi ke puting kiri Nina. Membuat Nina agak terhenyak dan menggeliat kencang, namun lengan Roy memeluk pinggang Nina dan menahannya bergerak lebih jauh. Kini mulut Roy dengan perlahan namun tegas segera memainkan puting kiri Nina. Lidahnya mengait-ngaitnya, bibirnya menghisap-hisapnya.

“Enngghhh… oohhhh… Roooyyyy” Nina merintih sambil menyebut nama Roy.

Mulut Roy menarik puting kiri Nina dan membiarkannya terlepas. Roy dapat melihatnya menjadi bersemu merah dan tegak keras. Puas dengan permainannya itu, Roy beralih ke puting kanan Nina, mencium dan menggigitnya pelan.

“Oghhh… ehhhmmmm” Nina kembali mengerang ketika merasakan putingnya mendapat jilatan dan hisapan Roy, sementara puting kirinya yg telah mengeras itu berada di antara telunjuk dan ibu jari Roy yg memilinnya lembut.

Kedua alis Nina seperti menyatu di tengah keningnya yg mengerut, kedua matanya terpejam, gigi Nina terkatup namun bibir Nina setengah terbuka, mengerang dan mendesah nikmat yg datang bertubi-tubi pada bagian tubuhnya yg paling sensitif itu. Roy mulai merasakan betapa puting kanan mulai mengeras di dalam mulutnya yg dengan rakus menghisapnya. Desahan dan erangan Nina terdengar memenuhi ruangan kamar hotel.

Dengan tiba-tiba Roy menarik tubuh Nina hingga terduduk. Roy duduk dibelakang tubuh Nina sambil mulutnya menjilati bahu dan leher Nina yg halus. Ibu jari tangan Roy menjentik-jentik puitng kanan Nina sementara telunjuknya bermain di puting kiri Nina, membuat Nina kian tak Mampu menahan birahi. Apalagi ketika tangan kiri Roy menarik rok Nina keatas, lalu menyelipkan dibalik CD nya. Dengan segera telunjuk kiri Roy menemukan bibir memek Nina yg telah basah, lalu jari nakal Roy itu bergerak seperti mencungkil-cungkil, menggesek bibir memek Nina, dan menjn\entik-jentik tonjolan kecil diatasnya. Nina menggelinjang-gelinjang tak karuan menahan semuanya. Rasanya sulit untuk bernafas. MAta Nina agak terbuka, dan dari cermin di dinding itu Nina bisa melihat betapa rakusnya Roy memainkan tubuhnya yg sudah hampir tanpa daya itu.

“Aahh… ooghhhh… aduuhhhh” Nina hanya bisa merintih untuk bertahan dari serangan-serangan birahi Roy. Tanpa Nina duga sebelumnya, jari tengah tangan kiri Roy menyusup masuk ke lubang memeknya, Eghhh….” Nina menjerit tertahan ketika merasakan sesuatu memasuki tubuhnya lewat tempat sensitif itu. Roy semakin buas, jarinya bergerak berputar-putar di dalam lubang memek Nina sementara tangan kanan Roy terus meremas-remas buah dada Nina yg kini terasa ngilu tapi nikmat.

Nina menyandarkan kepalanya di dada Roy, tubunya bergetar tak kuat menahan birahi. Tangan nina bergerak ke atas dan memeluk leher Roy.

Rupanya merek berdua sudah sama-sama menginginkannya, Roy segera menghempaskan tubuh Nina hingga kembali terlentang di tempat tidur. Dengan sigap Roy menyingkapkan rok Nina, mengangkangkan lebar kedua pahanya, dan meyingkapkan CD Nina kesamping. Tangan Roy menuntun batang kemaluannya yg tegang mengeras itu menyentuh bibir memek Nina yg sudah sangat basah oleh cairan memeknya, lalu dengan segenap kekuatan Roy menekan batang kemaluannya dalam-dalam.

“Ooghhh…oohhh… engghhh… ooohhhhh” jerit Nina ketika merasakan sodokkan batang kemaluan Roy menggesek dinding Nina dengan kencang dan bertenaga. Kedua tangan Roy dengan gemas terus meremas-remas buah dada Nina sambil sesekali memilin putingnya.

Nina hanya bisa merintih dan mendsah keras, kepala Nina terlempar ke kanan dan ke kiri merasakan sodokkan-sodokkan batang kemaluan Roy yg membuatnya lupa diri karena di gempur kenikmatan yg begitu luar biasa. Gerakan-gerakkan Roy makin lama makin cepat hingga tubuh Nina terhentak-hentak. Matanya terpejam tak mampu menahan kenikmatan yg luar biasa ini. Kedua tangan Nina mencengkram bantal yg tertindih kepalanya.

“Ooogghhh… nikmaattt.. seekaaalliiii… Rooyyy…” Nina benar-benar tak mampu menahannya lagi, sungguh nikmat.

Nina dapat merasakan dinding memeknya kian licin karena cairan memeknya yg makin banyak membanjirinya. Namun disitu batang kemaluan tetap dengan perkasanya mengikis dinding-dindingnya. Nina meringis keenakkan sementara Roy terus saja menyodok-nyodokkan batang kemaluannya yg besar dan keras itu ke alam memek Nina, sambil meremas kedua buah dadanya dan menatap wajah Nina yg kini nerekspresi menahan nikmat. Nina tak tau bagaimana dengan Roy, namun Nina benar-benar sudah tak mampu lagi untuk bertahan. Gelombang-gelombang kenikmatan terlalu liar menerpa tubuhnya yg kini tak berdaya. Otot-otot memeknya terasa menegang berusaha menjepit kejantanan Roy yg terus saja bergerak keluar masuk.

Akhirnya, sesuatu terasa meledak di sekujur tubuh Nina. Tubuhnya melengkung, punggungnya terangkat dari tempat tidur. Untuk sesaat seluruh tubuhnya mengejang. Gigi Nina bergemetaran menahan hantaman gelombang kenikmatan itu. Pandanganya seperti kabur dan semuanya tampak putih. Llau kenikmatan yg begitu intens itu menerenggut seluruh energinya. Nina pun lunglai tak berdaya di tangan Roy.

Kini tinggalah Roy yg dengan leluasa dan rileksnya membolak-balikkan tubuh Nina. Setelah Roy menyemburkan semua ke dalam memek Nina, barulah dia berhenti. Lambat laun Nina mulai pulih. Terlihatlah plafon kamar yg berwarna putih dan bertekstur. Seluruh ruangan pun mulai terlihat jelas. Namun kenikmatan itu belum hilang. Kenikmatan di sekujur tubuhnya yg baru saja Ry berikan.

Nina menengok ke samping dan mendapati Roy terbaring disitu menatap wajah Nina yg masih nampak kelelahan. Lalu mereka berdua saling berpelukkan. Tubuh mereka terasa amat menghangatkan. Lalu mereka terbang ke alam mimpi. Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita dewasa, Cerita Mesum 2017.